Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Last Day in Turkey: Hamam and Snacks

istiqlal avenue - www.jmswnr.comAkhirnya sampai juga di penghujung perjalanan kami bertiga selama di Turki ini. Kami menumpang pesawat dari bandara Kayseri (yang berjarak satu jam dari Goreme). Tiket dari Kayseri (Cappadocia) ke Istanbul cukup murah, hanya sekitar 300 ribu saja bila dirupiahkan. Durasi penerbangan hanya satu jam, dan akan mendarat di bandara Sabiha Gokcen di Istanbul. Harap diingat ya, bandara Sabiha Gokcen dan bandara Istanbul (Istanbul Airport) adalah dua bandara yang berbeda dan sangat berjauhan (satunya di ujung tenggara Istanbul di sisi Asia, satunya di ujung sisi barat laut sisi Eropa). Literally, ujung ke ujung.

Hari terakhir di Istanbul kami memutuskan memesan Airbnb di daerah Istiqlal Avenue. Dari bandara, kami naik Havabus sekali lagi dan turun di alun-alun Taksim Square. Kami bertiga pun menyeret koper dan memanggul ransel kami masing-masing mencari penginapan Airbnb kami. Jalan cukup jauh dari Taksim Square, ditambah lagi koper super berat milik Lukman membuat kami terengah-engah. Keadaan ini diperburuk dengan penginapan kami yang terletak di lantai empat sebuah gedung tanpa lift! Praktis kami harus mengangkat koper kami ke lantai empat lewat tangga spiral yang tinggi-tinggi.

Baklava dan Turkish Delight

Baklava dan Turkish Delight

Di hari terakhir kami di Istanbul (dan di Turki) ini kami memutuskan untuk sedikit bersenang-senang. Kami menghabiskan waktu kami berjalan-jalan di Istiqlal Avenue dan memasuki setiap toko roti dan oleh-oleh yang kami temui. Kami data semua penerima oleh-oleh yang akan diberikan ketika kami pulang dan mulai berbelanja.

Beberapa barang yang kami sarankan untuk sebagai oleh-oleh dari Turki, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk hadiah antara lain:

Baklava dan Turkish Delight

hafiz mustafa - www.jmswnr.com

Jajanan super-manis khas Turki ini sudah terkenal di mana-mana. Hampir di setiap sudut Istanbul menjual jajanan ini. Yang paling kami rekomendasikan adalah Hafiz Mustafa. Lokasinya ada di mana-mana, dan harganya sedikit mahal. Tapi packagingnya bagus, praktis, dan cocok untuk hadiah. Oya, selain itu, cobalah beli coklat dengan biji kopi di dalamnya di Hafiz Mustafa ini. Enak sekali!

Turkish Coffee

mehmet efendi kahveci - www.jmswnr.com

Kopi Turki juga sudah terkenal di mana-mana. Yang paling kami rekomendasikan adalah kopi merk Mehmet Kahveci. Tokonya ada di Egyptian Market daerah Sultanamet dan di area pasar dekat pelabuhan di sisi Asia. Tersedia dalam packaging yang bermacam-macam ukuran. Wangi kopinya benar-benar semerbak dan luar biasa loh!

Teh apel dan teh delima

Salah satu minuman yang paling sering kami minum selama di Turki adalah teh apel. Rasanya benar-benar seperti campuran sari apel dan teh, wangi sekali. Ada juga teh delima lengkap dengan delima kering yang sudah dihaluskan.

Rose Oil dan Serpihan Mint

toko oleh2 di istanbul - www.jmswnr.com

Barang ini kami temukan tidak sengaja di toko oleh-oleh. Saya kurang tahu khasiat dari rose oil ini, tapi beberapa teman kami dari Indonesia titip ini. Saya sendiri membeli serpihan mint. Harganya murah, dan cukup dicampur satu serpih dengan cangkir kecil air panas. Hirup dan rasakan sensasinya! Cocok buat kamu yang hidungnya sering buntu karena pilek.

Untuk barang kerajinan, kami belum menemukan yang cocok. Barang-barang yang dijual di Grand Bazaar hampir 90% adalah made in China dan merknya kawe alias palsu semua sehingga kami belum tertarik.

Istanbul sisi Asia

Tampak dalam ferry penyeberangan selat Bosphorus

Tampak dalam ferry penyeberangan selat Bosphorus

Oya, di hari terakhir ini saya dan Samuel mencoba sensasi mandi di hamam (pemandian) ala Turki loh. Mengikuti saran teman yang kami temui ketika green tour, kami akan menemukan hamam yang murah di Istanbul sisi Asia. Memang tempatnya tidak seberapa, tapi harganya sangat murah, jauh lebih murah dibanding hamam berkelas di sisi Eropa.

Kami pun naik kapal ferry, menyeberang dari sisi Eropa ke sisi Asia. Mau tahu berapa harga tiket ferry-nya? Hanya sekitar 5000 rupiah saja! Buset, kapan lagi naik kapal ferry semurah itu? Dari sisi Eropa ke Asia kami menyeberang selat Bosphorus yang menyuguhkan pemandangan kota Istanbul yang cantik.

Menikmati ikan bakar di Istanbul sisi Asia

Menikmati ikan bakar di Istanbul sisi Asia

Sampai di sisi Asia, kami berjalan-jalan di pasar dekat dermaga. Kami bahkan mampir di salah satu restoran ikan yang review-nya bagus di tripadvisor dan memesan menu ikan bakar. Harga makanan di sisi Asia jauh lebih murah loh ketimbang sisi Eropa, bahkan hingga setengahnya. Kebab di sisi Asia hanya berkisar 8 TYL saja (kalau di Taksim satu kebab bisa sekitar 12-15 TYL).

Sehabis makan kami berjalan-jalan di area sana sambil membeli oleh-oleh baklava dan turkish delight. Kemudian sorenya kami langsung mampir di hamam yang direkomendasikan teman kami itu.

Hamam (pemandian ala Turki)

Sumber: google.com

Sumber: google.com

Gara-gara tayangan Amazing Race, saya jadi penasaran mencoba pengalaman Turkish bath ini. Pemandian dalam bahasa Turki disebut hamam. Hamam yang kami kunjungi ini termasuk yang termurah. Namanya Aziziye Hamami. Banyak bule-bule backpacker yang masuk ke sini. Bagian pria dan wanitanya terpisah ya, jadi aman. Lukman memutuskan untuk menunggu saja. Praktis hanya saya dan Sam saja yang mandi.

Tiket masuk 70 TYL, sudah termasuk scrubbing dan massage.

Kami berdua pun digiring ke lantai dua dan diberikan kunci sebuah ruang ganti mini. Kami harus melepas semua pakaian kami dan hanya berbalut handuk untuk masuk. Kali pertama kami masuk ke ruangan, wuih gila panasnya! Ruangan sampe beruap dan berembun saking panasnya. Belum lagi kami disuruh duduk di sauna yang benar-benar sangat-sangat panas (tidak bermaksud lebay di sini). Setelah itu kami dipanggil bergiliran satu per satu ke ruangan lain untuk digosok. Selesai digosok badannya (dakinya keangkat semua cuy), kami disuruh kembali lagi ke area sauna dan menunggu giliran dipijat.

Tak lama saya dan Sam dipanggil bergantian ke ruangan lain untuk sekali lagi dimandikan dan dipijat. Bapak-bapak yang memandikan kami sangat cekatan. Gosoknya pun juga sangat terburu-buru, tapi bersih. Jangan bayangkan kalau proses pemijatan ini akan seperti di spa pada umumnya. Pijatnya tidak sampai lima menit! Kretek sana, kretek sini, udah… Selesai dipijat, kami disuruh keluar ruangan sauna untuk mengeringkan badan.

Saya dan Sam naik kembali ke ruang ganti lagi, berpikir bahwa ada proses followup lagi. Ternyata tidak. Kami disuruh ganti baju dan membayar. Udah. Gitu aja. Proses mandi yang “hanya” 20 menit. Kecewa? Ya sedikit. Di luar ekspektasi kami. Bayangan kami di hamam ini seperti spa yang dilayani dengan baik dan sabar, bukan dengan terburu-buru seperti ini. Tapi at the end of the day, ya sudahlah. Setidaknya kami sudah mencoba turkish bath di Turki. Sebuah pengalaman baru untuk diceritakan.

Next on: Rincian biaya ke Turki

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Last Day in Turkey: Hamam and Snacks