Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Cappadocia Day 2: The Green Tour

me at fairies chimney - www.jmswnr.com

Setelah selesai naik balon udara, kami kemudian diantar pulang kembali ke hotel masing-masing. Jam baru menunjukkan pukul 9 pagi, sedangkan paket tur yang kami ambil: green tour of Cappadocia baru akan dimulai jam 10. Jadi kami masih ada waktu satu jam untuk istirahat.

Saya akan tuliskan objek wisata yang dikunjungi oleh green tour ini ya dengan tidak urut ya. Saya akan tuliskan ini dengan gaya travel guide.

Goreme Panorama Viewpoint

fairy chimney - www.jmswnr.com

Tujuan pertama kami adalah dibawa ke atas sebuah bukit yang tinggi untuk melihat pemandangan panoramik Pigeon Valley dengan bebatuan Fairy Chimney di lembahnya. Apakah itu Fairy Chimney? Fairy Chimney adalah formasi bebatuan yang terbentuk berjuta tahun lalu sehingga batunya tinggi menjulang mirip jamur enoki raksasa. Bebatuan ini ada yang penuh, ada yang tengahnya berlubang sehingga mirip rumah burung merpati. Disebut Fairy Chimney karena mirip dengan rumah-rumahan para peri dengan cerobong asap yang menjulang tinggi.

Pemandangan yang sama dapat disaksikan dari balon udara juga. Hanya saja ini lebih dekat dan lebih luas sehingga kami bisa puas berfoto-foto dengan pemandangan lembah gugusan bebatuan yang mengagumkan ini.

Derinkuyu Underground City

derinkuyu cappadocia - www.jmswnr.com

Merupakan kota bawah tanah terluas di Turki. Derinkuyu ini mencapai kedalaman hingga 60 meter di bawah tanah, dan bisa menampung hingga 20,000 orang di dalamnya. Benar-benar sebuah kota.. meski di dalam tanah. Dulunya kota bawah tanah ini dibangun oleh para pengikut Kristen yang lari dan bersembunyi dari kejaran tentara Romawi. Kini tempat ini menjadi salah satu situs terpenting UNESCO.

Kota bawah tanah ini luar biasa luas dan sangat dalam. Sebelum masuk, setiap peserta diingatkan untuk harus tetap bersama-sama dalam satu rombongan dipandu oleh tour guide kami. Bila tidak, bisa tersesat dan hilang. Orang dengan penyakit jantung, claustrophobia (takut dengan ruangan sempit), atau kondisi medis lainnya disarankan tidak masuk. Semakin menambah rasa penasaran kami bertiga.

Dan benarlah.. Derinkuyu Underground City ini benar-benar luar biasa. Kami menuruni dan mengunjungi ruangan demi ruangan. Tangga aksesnya sangat kecil, dengan lebar hanya untuk satu orang, dan tinggi sekitar 1 meteran, sehingga kami harus menunduk untuk turun. Dan itu mencakup hampir semua tangga di seantero kota bawah tanah ini. Tidak memungkinkan pengunjung untuk berpapasan naik dan turun, sehingga salah satu harus mengalah terlebih dulu dan memberi jalan kepada yang lain.

derinkuyu underground city - www.jmswnr.com

Kami ditunjukkan lokasi-lokasi di kota bawah tanah ini. Ada tempat pemerasan anggur, ada tempat untuk hewan ternak (yes, hewan ternak seperti sapi di jaman dulu dipelihara di bawah tanah), ada ruangan dapur dengan ventilasi yang menuju ke permukaan tanah. Ada juga semacam ventilasi yang berfungsi sebagai corong komunikasi dengan ruangan lainnya. Benar-benar menakjubkan!

Mengenai kedalaman kota ini, well ini bukan main-main. Kami turun semakin dalam, dengan kepala tertunduk dan badan membungkuk setiap langkahnya setiap turun lebih dalam. Dan semakin dalam kami masuk, semakin kami sulit bernapas. Oksigen semakin tipis. Udara di bawah sana makin dingin hingga napas kami seperti uap. Sampai di satu ruangan, Lukman pusing dan harus duduk di lantai beberapa lamanya untuk menenangkan diri. Sungguh, suasana di kota bawah tanah ini is no joke . Tidak heran orang dengan kondisi tertentu dihimbau untuk di luar saja.

Ala Church

ala church - www.jmswnr.comSebuah gereja (atau yang dulunya gereja) dibangun di dalam gunung, literally. Di dalam gua yang dulunya gereja ini terdapat banyak gambar khas agama Katolik di dalamnya. Tur guide kami menjelaskan makna setiap gambar di dalam gua ini. Kemudian juga ada satu ruangan yang dulunya digunakan sebagai area produksi minyak zaitun.

Dari gereja ini, kami kemudian trekking menuruni bukit dan menyusuri sebuah lembah yang sangat cantik yang bernama…

Ihlara Valley

Bayangkan ini. Sebuah lembah seperti dalam lukisan. Begitu subur dengan berbagai pepohonan dan tanaman hijau tumbuh di sepanjang lembah ini. Sebuah sungai dengan air yang mengalir tenang membelah lembah ini.

ihlara valley - www.jmswnr.comKiri kanannya merupakan bukit dan gunung dengan pemandangan hutan hijau yang mulai menguning di musim gugur. Aroma dedaunan bercampur dengan wangi tanah yang basah karena air. Suara sungai mengalir seperti sebuah lantunan melodi yang indah.

Ihlara Valley memang semenakjubkan itu. Bak sebuah lukisan yang sempurna, yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Kami menyusuri lembah tersebut. Kadang kami harus berlompat kecil untuk menyeberang ke sisi sungai yang lain. Para peserta tur (termasuk kami) terkagum-kagum dengan romantisme yang ditawarkan tempat ini.

Dengan langkah perlahan dan santai, kami menuju restoran yang terdapat di lembah ini untuk makan siang. Makan siang dengan pemandangan seperti ini! Menakjubkan bukan?

Nar Lake

nar lake 1 - www.jmswnr.com

Lepas dari makan siang, kami kembali ke van dan melanjutkan perjalanan kami ke Nar Lake. Ternyata lokasinya cukup jauh. Beberapa dari kami sudah terlelap di van setelah kekenyangan menyantap makan siang barusan.

Nar Lake adalah sebuah danau yang terletak di kawah sebuah gunung. Danau yang berwarna biru turquoise ini kontras dengan warna bukit berwarna abu-abu yang mengelilinginya. Luas danau ini tidak terlalu besar, tapi mampu menciptakan sebuah pemandangan yang sangat instagrammable. Selain itu, di pinggir danau ini banyak pedagang yang menawarkan barang dagangannya. Ada ibu-ibu yang berjualan kopi Turki dan chai (teh). Ada juga beberapa pedagang oleh-oleh. Selain itu ada juga orang yang menawarkan sensasi pengalaman menunggangi keledai dan kuda. Hati-hati banyak kotoran binatang di tanah ya.

Selime Monastery

selime monastery - www.jmswnr.com

Merupakan gugusan bebatuan yang tinggi luas, dan menjulang. Dulunya dibangun sebagai pusat keagamaan. Tapi kemudian di era perdagangan, tempat ini dijadikan sebagai caravansary, tempat persinggahan para pedagang jalur sutera dari timur (China) dan Eropa. Yah, ibaratnya sebagai hotel bagi para pedagang. Para pedagang yang singgah di sini boleh menginap gratis selama beberapa hari, bisa beristirahat, juga tersedia istal kuda untuk mengistirahatkan “alat transportasi jaman dulu” ini.

Para peserta (yang kali ini untungnya muda-muda) diajak memanjat bebatuan ini. Seperti flashback ke masa lalu ketika masa kejayaan hotel-hotel para saudagar ini, kami ditunjukkan mana yang menjadi kamar-kamar hotel itu, di mana istal kuda, dan lain sebagainya. Bagi yang hendak ikut green tour ini disarankan memakai sepatu yang nyaman ya, karena cukup berpasir dan agak licin.

Miscellaneous

View yang indah senja hari

View yang indah senja hari

Seperti tur-tur lainnya pada umumnya, kami selalu dibawa ke toko-toko wajib. Di tur ini ada dua toko wajib yang harus kami kunjungi. Yang pertama adalah toko batu. Entah batu apa namanya, yang jelas semacam ruby atau onyx begitu (saya tidak begitu tertarik). Yang jelas ada yang warnanya hitam, merah, dan biru. Klaim mereka tentu saja batu mereka asli.

Toko kedua adalah toko oleh-oleh. Isinya ada baklava (kue manis khas Turki), teh apel bubuk, teh delima bubuk, kopi Turki, coklat, dan lain sebagainya. Kami bertiga berbelanjan cukup banyak di toko ini (yang akhirnya kami menyesal karena ternyata di Istanbul kami menemukan harga yang jauh lebih murah).

Itulah pengalaman kami mengikuti green tour of Cappadocia ini. Selain green tour, ada juga red tour dan blue tour. Red dan green tour merupakan rute yang cukup populer bagi first timer di Cappadocia, sedangkan yang blue tour kurang begitu diminati.

Next on: Hari terakhir di Turki

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cappadocia Day 2: The Green Tour