Life of a Backpacker

Journal of A Humble Backpacker

Pesona Derawan (part 2)

Gua Haji Mangku DerawanDerawan adalah salah satu destinasi wisata terindah yang pernah saya kunjungi. Memang belum bisa disejajarkan dengan Raja Ampat di Papua, tapi pantai-pantai dan resortnya cukup menarik untuk dikunjungi dan foto-foto di sana sangat instagrammable. Begitu pula dengan Labuan Cermin, salah satu danau terindah yang pernah saya kunjungi. Berikut saya rangkumkan trip hari kedua dan ketiga yang kami kunjungi bersama Indonesia Juara Trip.

Menguji adrenalin di Gua Haji Mangku

Destinasi pertama di hari kedua kami adalah Gua Haji Mangku. Di sini adrenalin setiap peserta diuji dengan melompat dari ketinggian 3-4 meter ke sungai (err.. bukan sungai sih, lebih tepatnya kolam) di pinggir tebing. Kolam ini terhubung dengan gua yang disebut Gua Haji Mangku. Airnya jernih, air tawar, dan dingin. Kami juga sempat berfoto ala underwater di sini dan di depan Gua Haji Mangku.

Resort Maratua yang kece abis

Maratua Resort

Salah satu resort terbaik di Derawan ada di pulau Maratua. Resort yang kami kunjungi (saya lupa namanya) sangat cantik. Dibangun dengan konsep di atas air, dan ada satu spot yang memang ditujukan untuk keperluan foto. Kombinasi bangunan yang cantik, warna coklat kayu dipadukan dengan warna tosca alami laut, serta desain yang indah, membuat kami menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di sini untuk berfoto dengan menggunakan drone dan kamera. Hasilnya? Sangat cantik dan instagrammable sekali!

Snorkeling di Kakaban dan Danau Ubur-ubur

Berpose sebelum pulang dari Kakaban

Formasi open trip Indonesia Juara Trip kali ini

Spot berikutnya adalah Danau Ubur-ubur (Tebing Kakaban) yang terletak di Kakaban. Setelah makan siang, saatnya kami snorkeling di danau ini. Dari atas danau ini kelihatan biasa saja, malah airnya sebenarnya agak hijau kekuningan. Sebelumnya, kami pun di-briefing terlebih dahulu oleh TL kami untuk beberapa aturan snorkeling di danau ini. Beberapa di antaranya adalah kami dilarang untuk berenang gaya bebas, atau gaya yang terlalu “keras” gerakannya karena dapat memukul dan membunuh ubur-ubur. Kami juga disarankan memakai vest pelampung meskipun kami bisa berenang untuk mengurangi gerakan-gerakan berenang (dan lebih banyak mengapung).

berenang bersama ubur2 di derawan - www.jmswnr.com

Setelah itu, kami langsung masuk ke dalam danau dan berenang agak ke tengah. Dan benarlah. Banyak sekali ubur-ubur berwarna kuning yang lucu dan imut. Ubur-ubur ini ternyata sudah tidak mengandung racun dan sengat sehingga aman untuk disentuh. Kami pun berebut untuk berfoto di bawah air bersama para ubur-ubur.

Menurut bang Tegar, danau ubur-ubur apalagi ubur-ubur yang “jinak” seperti ini sangat langka di dunia. Hanya ada beberapa tempat saja yang memiliki spesies ini, dan salah satunya ada di danau Kakaban.

Kehe Daing atau Hidden Lagoon

Kehe Daing

Kehe Daing

Kita menyebutnya hidden lagoon (atau laguna yang tersembunyi), sedangkan nama lokalnya adalah Kehe Daing. Tempat ini terdapat di sisi lain pulau Kakaban. Untuk mencapai laguna ini bisa menggunakan dua jalan. Yang pertama jalan normal. Turun kapal, naik jembatan bagian atas laguna, dan turun ke laguna. Sedangkan jalan yang kedua agak menantang yaitu melewati gua di bagian bawah pulau. Gua ini menghubungkan laut dengan laguna sehingga bila air sedang surut, kita bisa memasukinya dan tembus menuju laguna. Dasar jiwa petualang, kami memutuskan menggunakan jalan yang kedua. Tinggi gua ini sedada manusia dewasa dan arusnya cukup kencang. Beberapa kali sandal saya hampir hanyut karena arus yang kencang.

Air di laguna ini jernih dan tidak dalam. Well.. ada beberapa sisi laguna yang cukup dalam sih. Tidak terdapat terumbu karang atau banyak ikan yang berwarna-warni sehingga kami pun puas hanya dengan foto-foto dan tidak snorkeling.

Penyu di Pulau Sangalaki

Penyu di pulau SangalakiPulau ini dijadikan sebagai pulau konservasi penyu. Di pulau ini, ratusan telur penyu menetas setiap tahunnya dan dilindungi oleh pemerintah. Dari sekian ratus telur penyu, mungkin penyu yang tumbuh menjadi dewasa hanya beberapa ekor saja. Hal ini dikarenakan banyak anak penyu yang mati karena diburu manusia, predator, maupun kondisi alam, sehingga di pulau Sangalaki ini berdiri balai konservasi untuk melindungi penyu-penyu yang mulai langka ini.

Di sini kita bisa melihat penyu yang baru menetas dari telurnya yang kemudian diamankan di sebuah bak berisi air laut untuk kemudian dilepas ke laut. Perlu campur tangan manusia juga supaya anak-anak penyu tidak dimakan predator darat seperti biawak. Dan sekarang ini, memperdagangkan daging dan telur penyu sudah dilarang loh. Bisa ditangkap dan dipenjara.

Ikan Manta (dan plankton, dan ubur-ubur berbahaya)

Ikan pari atau ikan manta adalah salah satu spesies ikan yang bisa dengan mudah ditemukan di perairan di sekitar Derawan. Dan kami beruntung hari itu kami bisa melihat beberapa ekor ikan manta berwarna hitam dan berukuran sedang berenang.

Begitu TL (tour leader) kami mengijinkan kami untuk terjun ke air, saya langsung nyemplung. Tapi tidak sampai semenit berenang, tiba-tiba terasa perih di bagian wajah daerah kumis saya. Rasanya seperti disengat sesuatu atau digigit semut. Saya mengabaikannya dan tetap berenang. Tak lama kemudian, teman-teman lainnya yang nyemplung dengan bertelanjang dada (para pria) juga merasakan hal yang sama: perih di tubuh mereka. Belum hilang kagetnya, tiba-tiba seorang TL berteriak: “Ada kawanan plankton berenang ke arah mas James! Cepat minggir mas!”

Ini nih yang berenang ke arahku

Ini nih yang berenang ke arahku

Wuih mendengar itu langsung panik saya sambil mencari-cari hewan apa itu yang berenang ke arah saya. Tapi goggle saya berembun dan tidak bisa melihat jelas. Akhirnya saya berenang sekuatnya ke arah kapal dan langsung naik kapal. Tak lama kemudian, para peserta lain juga menyusul naik kapal. Di atas kapal para peserta merasakan ada yang perih di beberapa titik di badan. Ternyata kami semua “digigit” oleh plankton. Ternyata di area sana memang banyak plankton sehingga banyak ikan manta mencari makan. Selain itu juga TL kami yang berjaga di kapal juga melihat koloni ubur-ubur yang berbahaya sedang berenang di area sana. Langsung kami urungkan niat kami melihat ikan manta, daripada kesakitan disengat ubur-ubur.

Ealah, ternyata kami berenang di “restoran”nya para ikan manta ini. (bersambung)

More stories about ,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pesona Derawan (part 2)