Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Liburan ala Korona

Masker adalah benda wajib sekarang

Pandemi Covid-19 mendera seluruh dunia. Tidak ada satu negara di muka bumi ini yang luput dari virus yang belum ada obatnya ini. Demi mengurangi jumlah pasien yang terinfeksi dan mencegah penularan yang lebih luas, maka daerah-daerah di Indonesia melaksanakan PSBB, termasuk Surabaya, kota tempat saya tinggal.

Setelah hampir 3 bulan mengurung diri di rumah saja, mengurangi berbagai aktivitas yang melibatkan orang banyak, keluar rumah bila ada keperluan saja, dan segudang protokol kesehatan lainnya, akhirnya bulan Juni PSBB mulai dilonggarkan menuju tahap baru: new normal.

Saya dan teman-teman traveler lainnya menyambut baik keputusan pemerintah untuk tetap menghidupkan roda ekonomi dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Bagaimana pun juga, ekonomi tidak boleh sampai mandek. Kurva penderita Covid-19 pun harus ditekan serendah-rendahnya. Dua sisi paradoks yang dihadapi pemerintah kita saat ini, dan saya rasa pemerintah telah memberikan keputusan yang tepat.

Hanya berlibur ke Malang aja

Sektor pariwisata adalah yang paling terpukul oleh pandemi ini. Banyak airlines di seluruh dunia terancam bangkrut. Hampir tidak ada traveler yang bepergian saat ini. Negara-negara di seluruh dunia seolah menutup pintu agar penyebaran virus ini bisa ditekan. Syarat menumpang angkutan udara pun dipersulit, seperti harus membawa hasil rapid test atau swab test (padahal kita tahu bahwa tingkat akurasi rapid test sangat rendah).

Terlepas dari segudang syarat ini, sejujurnya saya sendiri juga masih takut untuk bepergian naik pesawat. Baru-baru ini maskapai Citilink dan Lion Air kelolosan pasien Covid-19 yang menumpang pesawat mereka sehingga semua penumpang dan kru pesawat penerbangan tersebut diminta melapor ke Dinas Kesehatan setempat. Wah, repot ya…

Pintu masuk ke Coban Kaca

Tapi ada beberapa teman saya yang memang nekad saja. Bahkan mereka mengajak saya untuk traveling keluar negeri di saat pandemi seperti ini! Katanya sedang murah-murahnya. Ya sih, hanya saja negara yang bersangkutan pun belum tentu membuka pintunya untuk kita, warga negara Indonesia yang kurva pasiennya masih melambung.

After all, traveling mungkin sudah menjadi darah daging saya. Rasanya gatal kalau tidak kemana-mana. Pilihan yang paling aman adalah traveling di sekitaran Jawa Timur saja. Tidak dengan naik pesawat, tapi naik mobil sendiri, dengan teman-teman sendiri yang memang sudah diyakini sehat. Saya juga tidak mau mengambil resiko dengan ikut tour yang mengharuskan beberapa orang yang tidak saya kenal dalam sebuah mobil. Lebih baik menyetir sendiri, daripada sewa supir harian. Semua ini demi memuaskan rasa traveling di saat pandemi seperti ini.

Berkah yang didapat adalah saya jadi bisa mengunjungi spot-spot di provinsi saya sendiri yang sebelumnya terlewat begitu saja. Yah, hitung-hitung membantu pariwisata lokal juga. Saya juga lebih mengenal objek wisata yang saya lewatkan yang sebenarnya sangat indah. So, di postingan saya berikutnya saya akan membagikan pengalaman saya traveling di Jawa Timur ya..

Malang rasa Bali

Akhir kata, semoga pandemi ini segera berakhir. Vaksin sudah ditemukan. Obat juga sudah ditemukan. Dan traveling kemana-mana sekali lagi menjadi hal yang exciting, bukan momok, bagi para traveler dari seluruh penjuru dunia. Amin.

Next on: Pantai-pantai indah di selatan Malang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Liburan ala Korona