Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Backpacker ke Negeri Laskar Pelangi

Notes: Postingan ini adalah hasil recovery dari tulisan blog saya yang hilang karena server tidak becus (di-hack) sehingga semua postingan dari akhir 2017 hilang dan harus di-post ulang. Termasuk tulisan pengalaman saya di Belitung ini.

Bandara Tanjung Pandan

Maret ini saya spontan saja pergi ke Belitung, tanpa persiapan yang sampai terlalu matang seperti ketika backpackeran keluar negeri. Awalnya saya pergi ke Jakarta dari Surabaya untuk sebuah urusan. Namun urusan saya itu cuma satu hari saja. Rasanya rugi sekali beli tiket pp dan langsung pulang ke Surabaya. Jadinya saya memutuskan untuk pergi ke Belitung saja.

Setelah browsing sana-sini, ternyata tiket dari Jakarta ke Tanjung Pandan (Belitung) tidak terlalu mahal. Tiket pp cuma sekitar 700 ribuan saja. Kurang lebih seperti Surabaya ke Bali deh. Tiketnya pun saya beli seminggu sebelum keberangkatan. Saya memutuskan untuk 3 malam saja di Belitung (berdasarkan rekomendasi dari beberapa travel blogger).

Untuk urusan hotel saya memutuskan untuk menumpang ala couchsurfing. Tapi sayangnya host saya (Bang Choky namanya) tiba-tiba berhalangan sehingga saya booking hotel. Atas rekomendasinya saya memilih Hotel Surya yang terletak di pusat kota Tanjung Pandan. Harganya saya cari di website traveloka dan harganya fantastis untuk kantung backpacker. Cuma 111 ribu per malam! Review tentang hotel ini saya tulis di postingan saya berikutnya ya.

Interior bus yang tetap bersih (meskipun gratis)

Saya tiba di Tanjung Pandan pada Minggu siang. Cuaca mendung gelap di sana (pantas saja ketika di pesawat terus-menerus ada turbulence). Untuk mengirit ongkos, saya naik bus milik pemerintah ke kota. Bus itu berangkat dari bandara menuju pusat kota. Dan gratis pula! Penampakan busnya bersih dan masih baru. Pengemudinya pun ramah.

Edyta

Di dalam bus itu saya berkenalan dengan seorang ibu-ibu bule asal Jerman yang bernama Edyta. Ia cuma seorang diri saja. Dan setelah mengobrol dengannya, akhirnya saya pun mengajaknya besok untuk jadi teman travelingku. Lumayan hitung-hitung bisa split cost. Kebetulan Edyta tinggal di hotel Arnava di sebelah hotel Surya. Saya pun membuat janji akan menjemputnya besok pagi jam 9 di hotelnya.

Pantai Tanjung Pendam

Sore harinya, saya berjalan kaki sendiri ke arah pantai Tanjung Pendam yang berjarak tidak jauh dari hotel. Berjalan kaki sekitar 15 menit, sampailah saya di pantai Tanjung Pendam. Kebetulan air laut sedang surut sehingga pemandangannya tidak begitu spektakuler. Belum lagi awan mendung menggelayut di langit di kejauhan.

Malamnya bang Choky (teman CS saya) dan Aldy temannya mengunjungi saya di hotel. Kami pun membuat rencana untuk besok. Mereka menyarankan saya untuk menyewa motor untuk pergi ke pelabuhan.

Keesokan harinya saya menyewa sepeda motor dari hotel seharga 70 ribu untuk sebuah motor matic (tidak include bensin). Bensin saya harus isi sendiri. 15 ribu cukup koq. Jam 9 kurang saya pergi ke hotel Arnava menjemput Edyta. Ternyata ibu ini sudah bersiap di lobby loh. Benar-benar on time! Bang Choky dan Aldy juga sudah sampai. Akhirnya berempat kami berangkat menuju utara (pelabuhan). Di tengah jalan kami membeli nasi padang untuk bekal makan siang nanti di pulau.

Bang Choky dan Aldy

Di pelabuhan, kami menyewa kapal dari salah satu teman bang Choky. Untuk 4 tujuan, kami membayar 400 ribu. Untungnya saya mengajak Edyta sehingga ada yang bisa diajak patungan. Hehe… Kami pun langsung melompat ke atas perahu dan memulai petualangan kami di kepulauan Belitung yang indah ini.

Tujuan pertama kami adalah pulau Lengkuas yang terletak paling jauh. Di pulau ini berdiri sebuah mercusuar setinggi 18 lantai peninggalan Belanda. Di bagian samping dan belakang pulau ini terdapat banyak batu-batu besar yang kokoh khas Bangka Belitung. Sayangnya di pulau ini kami tidak diperbolehkan naik karena cuaca mendung, takut kilat. Jadinya yah kami foto-foto di sekitar pulau saja.

Pulau ini juga merupakan salah satu habitat penyu juga. Tersebar beberapa titik yang merupakan sarang penyu lengkap dengan papan peringatan agar tidak boleh menginjak sarang penyu.

Pulau kedua yang kami kunjungi adalah pulau Kepayang. Karena cuaca sudah hujan, kami akhirnya berteduh di sana sekaligus menikmati bekal makan siang yang kami bawa. Selesai makan siang, untungnya cuaca sudah kembali cerah dan kami pun melanjutkan ke pulau Batu Berlayar. Pulau ini hanya sebuah pulau mini dengan batu-batu yang besar-besar. Sangat cantik dan instagrammable.

Bebatuan besar yang kokoh nan cantik

Setelah itu kami menuju pulau Pasir (atau dalam bahasa Inggrisnya: sandbank). Pulau ini hanya muncul bila air laut surut sehingga bagian yang dangkal bisa muncul ke permukaan. Sandbank ini sangat menarik dan menyenangkan. Kita bisa berenang di situ tanpa takut tenggelam (hanya waspadalah dengan ombak besar ya). Sandbank ini juga cantik sekali bila difoto.

Tujuan berikutnya ke pulau Kelayang. Pulau ini pulau paling dekat dengan pulau utama. Sebuah emm.. gua mini tersembunyi di balik pulau ini. Cantik dan mempesona sekali pemandangan di dalam gua mini di pulau Kelayang ini. Saya sempatkan turun ke sana dan berfoto-foto dengan narsis. Mirip bidadari lagi mandi nih. Hahahahha…

Sepulang dari pelabuhan kami menyempatkan diri mampir di pantai Tanjung Tinggi. Di pantai ini juga merupakan lokasi syuting film Laskar Pelangi yang sangat terkenal pada tahun 2008 silam. Di sini kita bisa melihat batu-batu berukuran sangat besar yang menakjubkan. Kita bahkan bisa naik ke atasnya (hanya saja tetap hati-hati ya…). Pantai iconic ini sangat recommended bagi kamu-kamu yang pergi ke Belitung ya.

Perjalanan hari itu sangat menyenangkan. Bersama teman-teman baru, bertualang melihat keindahan alam laut belitung yang tiada duanya. Sebuah pengalaman baru yang tak terlupakan di negeri laskar pelangi ini.

Next on: Belitung Timur

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Backpacker ke Negeri Laskar Pelangi