Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Dubai dengan Segala Kemegahannya (part 2)

Lanjutan dari postingan sebelumnya, pengalaman pertama mengunjungi Uni Arab Emirates ((UAE), di kota Dubai. Seperti sebelumnya, saya menuliskannya dengan gaya travel guide – ringkas dan padat.

Old Dubai – Abra Water Taxi – Souk

Menyeberangi Dubai Creek dengan Abra Water Taxi

Sisi lain dari kota Dubai yang futuristik dengan gedung tinggi ada di Old Dubai. Bangunan di sini tidak tinggi, cenderung klasik dan tua. Di sinilah sisi kota lama Dubai. Kami berkeliling dengan menggunakan bus, mengunjungi Dubai Museum yang berisikan cerita sejarah dan budaya kota Dubai dan UEA, naik Abra water taxi ke souk.

Abra water taxi ini sejenis kapal penyeberangan dari satu sisi sungai Dubai ke sisi lainnya. Biasanya digunakan oleh rakyat setempat sebagai transportasi umum untuk menyeberangi Dubai Creek. Satu kapal muat hingga dua puluh orang.Tidak ada yang spektakuler dari kapal ini. Yang seperti ini di Indonesia juga banyak.

Penampakan gold souk Dubai

Sampai di seberang, merupakan pintu masuk ke souk (pasar). Souk di Dubai terbagi dalam beberapa area yang bisa diklasifikasikan sebagai spice souk (pasar bumbu), gold souk (pasar emas), dan textile souk (pasar kain). Sesuai klasifikasinya, pergilah ke tempat yang menurut Anda sesuai kebutuhan. Saya sendiri pergi ke gold dan spice souk saja karena keterbatasan waktu.

Jangan bayangkan souk di Dubai ini semacam Grand Bazaar di Istambul ya. Lokasinya tidak terlalu besar. Kiri kanan banyak toko yang berjualan bermacam-macam bumbu dan rempah yang menurut saya sangat instagrammable. Banyak juga toko yang menjual oleh-oleh seperti kurma khas Arab yang terkenal sangat enak. Saya membeli dua bungkus besar kurma lapis coklat untuk oleh-oleh seharga kurang lebih 125,000 rupiah per bungkusnya.

Gold souk, well… suasananya mirip Pasar Atum di Surabaya di area jual emasnya. Sangat standar. Kiri kanannya kebanyakan toko emas dan perhiasan. Soal harga, tidak murah. Pintar-pintarlah menawar karena biasanya harga yang mereka buka tidak masuk akal. Bagi yang hendak membeli oleh-oleh magnet dan gantungan kunci atau hiasan Dubai, bisa di sini juga. Harga opening mereka untuk sebuah magnet kulkas adalah AED 12. Saya dan beberapa ibu-ibu peserta saya berhasil menawar hingga AED 5 per bijinya loh. Hidup ibu-ibu!

Dubai Frame

Dibuka pada tahun 2018, Dubai Frame merupakan objek wisata paling anyar di Dubai. Bentuknya seperti pigura emas raksasa dan merupakan museum lift (kalau saya tidak salah). Bagian dalam bingkai raksasa ini di-plating dengan menggunakan emas asli loh. Sedangkan bagian luar atau yang tersentuh tangan manusia dibangun dengan plat berwarna emas senada sehingga memberikan kesan bingkai emas raksasa.

Berjalan di lantai kaca Dubai Frame

Pengunjung bisa naik ke bagian atas (dalam) bingkainya. Di sana terdapat lantai kaca yang langsung melihat tembus ke bawah. Uniknya lagi, dari atas sana kita bisa melihat kota lama di sisi kiri dan kota baru di sisi kanan. Sisi kiri (Dubai lama) semuanya bangunan pendek-pendek, sedangkan sisi kanan kita bisa melihat gedung pencakar langit termasuk Burj Khalifa.

Restoran Indonesia

Ini bukan merupakan tempat wisata sih, tapi menurut saya layak untuk dimasukkan ke dalam cerita ini. Hampir setiap hari peserta tur saya (dan saya sendiri) makan makanan hotel terus. Makanan yang didominasi makanan India dan Timur Tengah ini awalnya enak. Namun setelah beberapa hari akhirnya bosan juga. Kami pun rindu akan masakan tanah air seperti penyetan sambal, sup buntut dan lain sebagainya.

Untungnya agen perjalanan kami tahu sehingga pada hari kelima, kami dibawa ke salah satu restoran Indonesia di sana. Dapoer Kita, begitu namanya. Jangan tanya saya di daerah mana karena saya hanya duduk manis diantar supir bus. Restoran itu sangat kecil. Hanya memuat maksimal 25 orang itu pun sudah berdesak-desakan. Tapi kami sungguh suka restoran ini. Mulai dari pelayan, koki, hingga ownernya semua orang Indonesia. Bahkan pelayan yang menyuguhkan makanan untuk kami berasal dari Jawa dan telah bekerja di sana selama belasan tahun.

Kami pun disuguhkan makanan khas Indonesia yang sangat menggugah selera. Daging rendang, ayam goreng penyet lengkap dengan sambal ijonya yang pedas, tahu tempe goreng, kangkung bawang putih, dan hidangan surprise untuk kami semua: sup buntut! Kami semua makan dengan lahap. Bayangkan beberapa hari makan makanan mewah terus, ada kalanya kami merindukan masakan “rumah”. Soal rasa, benar-benar Indonesia! Ternyata hampir semua bumbu, rempah, dan bahan baku didatangkan langsung dari Indonesia. Kokinya sendiri yang orang Indonesia mengolahnya menjadi makanan ini makanan terenak selama kami di Dubai.

Next on: Dessert Safari di Dubai, sebuah pengalaman baru!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dubai dengan Segala Kemegahannya (part 2)