Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Ada apa sih di Brunei?

di depan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien - www.jmswnr.com

Waktu transit menuju penerbangan ke Dubai kami di Brunei selama 18 jam. Kami tidak menyia-nyiakan menunggu 18 jam di bandara (yang hampir tidak ada apa-apa). Oleh agen perjalanan kami, sebuah bus sudah disiapkan untuk mengantar kami berkeliling kota Bandar Sri Begawan yang merupakan ibukota Brunei Darussalam. Berikut beberapa point of interest selama di kota Bandar Sri Begawan.

Catatan Penulis: Tulisan ini sudah saya post sebelumnya di tahun 2019, tapi karena ada insiden dari hoster website ini menyebabkan postingan blog saya banyak yang hilang. Salah satunya adalah catatan perjalanan saya ke Brunei dan Dubai. Oleh karena ini adalah repost dari tulisan saya sebelumnya, beberapa foto ada yang hilang. Harap dimaklumi.

Roti Kuning (Roti Kawin) di kopitiam

Roti Kuning

Salah satu tempat nongkrong favorit bagi orang-orang Brunei adalah kopitiam alias warkop kalau dalam bahasa Indonesianya. Kopitiam di Brunei tidak jauh beda dengan kopitiam di Singapura atau di Malaysia. Yang dijual di kopitiam sana pun masakan khas peranakan seperti kwetiau, mie, jajanan pasar, roti, dengan minuman seperti kopi O, teh tarik, dan milo. Nah kopitiam yang kami kunjungi ini bernama Chop Jing Chiew Kopitiam yang terkenal dengan rotinya yang disebut Roti Kuning atau Roti Kawin.

Roti Kuning ini rasanya sangat enak. Bentuknya mirip roti sisir yang dipanggang dengan olesan mentega di tengahnya. Begitu digigit menteganya melumer di dalam mulut, enak sekali! Ukurannya cukup besar sehingga makan satu porsi saja kenyang. Roti ini disuguhkan dengan pilihan minuman seperti kopi, teh tarik, atau milo. Kayaknya kalau berkunjung ke Brunei wajib deh coba roti ini.

Nasi Katok

Kalau ini di Indonesia namanya nasi bungkus versi super ekonomis. Dari awal kami sudah diingatkan oleh agen kami untuk tidak memasang ekspektasi terlalu muluk untuk nasi katok ini. Dan tadaaaa… memang benar untuk nasi katok ini sangat… sederhana. Isinya hanya nasi putih dengan lauk ayam dan sambal. Yes, hanya itu saja. Literally tidak ada lauk lain!

Jadi ceritanya nasi katok ini dahulu dijajakan oleh ibu-ibu dari rumah ke rumah dengan cara mengetok pintu satu per satu. Jadilah istilahnya nasik katok (ketok). Nasi ini dulunya untuk sarapan orang-orang sebelum pergi kerja karena praktis. Nasi katok ini sekarang menjadi makanan rakyat. Di mana-mana bisa terlihat restoran yang menjual nasi katok.

Kampung Air

Kampong Ayer (Kampung Air)

Sejak ratusan tahun lalu penduduk Brunei tinggal di rumah-rumah kayu yang dibangun di atas sungai Brunei, sedangkan bangunan-bangunan baru modern di kota Bandar tergolong baru karena dibangun setelah perang dunia kedua berakhir. Namun saat ini Kampung Air masih berpenghuni dan sebagian kecil warga Brunei masih menempatinya.

Kita bisa mengunjungi Kampung Air dengan menyusuri Sungai Brunei dengan menggunakan kapal motor. Terdapat sebuah batu besar di sungai ini yang konon katanya merupakan jelmaan legenda setempat. Kisahnya hampir mirip dengan Malin Kundang. Intinya seorang anak durhaka terhadap ibunya sehingga kapal dan isinya dikutuk menjadi batu. Oleh karena itu nama batu ini Jong Batu. Legendanya sendiri bernama Nahkoda Manis.

Jong Batu

Jong Batu

Menyusuri Sungai Brunei, kami dipersilahkan untuk naik dan memasuki rumah salah seorang warga di sana. Kondisi rumah yang kami kunjungi masih sangat bersih dan teratur. Penghuninya masih pergi bekerja di kota dan akan pulang ke rumah dengan perahu sore harinya. Interior rumahnya ala-ala rumah Indonesia jaman tahun 80an lah…

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien - www.jmswnr.comMasjid Sultan Omar Ali Saifuddien

Salah satu masjid terbesar dan termegah di Brunei. Seorang pemahat dan arsitek kenamaan dari Italia, Rudolfo Noli, merancang masjid ini dengan gaya mughal (India) dan Melayu. Tembok masjid ini didominasi warna putih dengan kubah berwarna emas yang indah. Bangunan ini sangat indah difoto, terutama dengan latar belakang langit yang biru.

Istana Nurul Iman

Merupakan tempat kediaman resmi Sultan Brunei, dan digunakan untuk menerima tamu kenegaraan dan event-event nasional. Sering disebut sebagai istana terbesar di dunia dengan 1.788 kamar loh! Areanya juga sangat luas . Sayangnya ketika kami mengunjungi ini, kami tidak diperbolehkan berhenti karena ada kerabat sultan yang hendak keluar istana.

Museum Royal Regalia Exhibition Hall

Museum Royal Regalia Brunei - www.jmswnr.com

Museum nasional ini dibangun tahun 1992 untuk merayakan kepemimpinan Sultan Hassanal Bolkiah. Di dalamnya kami tidak diperkenankan membawa apapun termasuk tas, makanan minuman, kamera, bahkan ponsel pun harus dititipkan di resepsionis sebelum masuk ke area pamernya. Di dalamnya banyak berisikan benda-benda kerajaan Brunei Darussalam, peninggalan sejarah, budaya seperti pakaian tradisional setempat. Ada juga kereta kencana dalam skala sebenarnya yang digunakan untuk penobatan sultan Brunei.

Sekilas pandang kota Bandar Sri Begawan

Jembatan di Brunei - www.jmswnr.com

Kota ini sepi. Kondisi jalan sangat lengang bahkan di jam-jam sibuk sekalipun. Tidak ada kemacetan, jalan-jalan pun mulus dan dapat dilalui dengan mudah. Rumah-rumah di sana pun seperti rumah standar dengan satu hingga tiga lantai saja. Tidak ditemukan bangunan tinggi seperti mall, perkantoran atau apartemen seperti di Jakarta.

Bagi saya, Brunei sangat sepi dan membosankan. Aturan pemerintah setempat yang melarang adanya tempat hiburan seperti karaoke dan larangan merokok, membuat vibe kota ini makin sepi.

Untuk mata uang, biasanya menggunakan Dolar Brunei (BND). Namun mereka juga menerima pembayaran dalam Singapore Dollar (SGD). Perbandingannya adalah 1:1. Satu BND sama dengan satu SGD. Saya sendiri belanja di supermarket dan makan di restoran dan membayar dengan SGD koq. So, bagi yang hendak berkunjung ke Brunei sebaiknya membawa SGD saja ya..

Next on: Abu Dhabi yang mempesona

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ada apa sih di Brunei?