Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Cappadocia Day 1: Enjoying Goreme

Lanjutan dari kisah sebelumnya: kami bertiga (James, Lukman, dan Sam) backpacker ke Turki, dan setelah naik bus malam dari Denizli akhirnya kami tiba juga di Goreme, Cappadocia. Tapi naas di tengah perjalanan, sol sepatu James lepas, yang akhirnya ditolong dengan bantuan sarung sepatu (jas hujan sepatu yang dibawa James). Tujuan pertama kami adalah Sunset View Point yang luar biasa cantiknya. Dari sinilah foto-foto Cappadocia yang menakjubkan diambil.

Goreme Open Air Museum 1 - www.jmswnr.com

Turun dari Sunset View Point, kami kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat sejenak. Saya mengunjungi common room di hotel kami (Terra Vista Hotel) dan berkenalan dengan sesama backpacker yang sedang sarapan di sana. Saya make new friends dengan beberapa teman baru dari Singapore, China, dan Eropa. Sebenarnya salah satu esensi backpacker adalah make new friends as you travel. Karena dari teman-teman baru itulah kita bisa mendapatkan banyak informasi yang tidak ditulis di internet atau di buku panduan manapun. 😁 Dari teman-teman baru ini juga saya baru tahu kalau ternyata kita tidak harus membayar untuk bisa menikmati keindahan Goreme Open Air Museum. Ada jalur “sampingan” loh.

The Rock of Goreme Open Air Museum - www.jmswnr.comSetelah mandi, kami memutuskan untuk berkeliling kota Goreme dan menuju ke Goreme Open Air Museum. Sebenarnya kami ada misi lain: mencari paket tur balon udara dan green tour (salah satu rute tur paling populer di Cappadocia). Sebenarnya hotel kami menyediakan paket balon udara seharga 150 euro dan green tour 35 euro (yes, bayar pake euro atau USD ya.. bukan pake turkish lyra), tapi dasar kami orang Indonesia yang pengen serba murah. Pantang deal sebelum mencari dan menawar. Jadilah kami bertiga memasuki setiap travel agent yang kami temui sepanjang perjalanan ke Goreme Open Air Museum. Harga yang ditawarkan pun cukup bervariatif. Rata-rata menawarkan 140-160 euro untuk naik balon udara dengan durasi 1 jam. Sedangkan untuk green tour, harga yang ditawarkan cenderung flat antara 35-40 euro.

Belum ada yang menarik hati kami, sehingga kami memutuskan untuk pergi ke Goreme Open Air Museum dulu.

Goreme Open Air Museum (or sort of…)

Goreme Open Air Museum 2 - www.jmswnr.com

Jalan kaki menuju Goreme Open Air Museum (GOAM) cukup jauh dari alun-alun kota. Di tengah perjalanan kami make new friends lagi dengan dua orang wanita dan satu orang pria orang Kurdi. Mereka sangat ramah kepada kami, bahkan mengambil foto bersama kami di bawah pohon “evil eyes”. Tiga orang teman baru kami juga memiliki pekerjaan yang bervariatif. Ada yang psikiater, ada yang masih mahasiswi, dan seorang lainnya merchandiser. Well.. siapa bilang orang Kurdi isinya perang melulu? Dengan traveling jadi membuka mata kami.

Pohon evil eyes di sini maksudnya adalah sebuah batang pohon mati yang digantungkan tanda evil eyes yang berwarna biru putih. Tujuannya adalah menolak bala dan sebagai lambang keberuntungan. Evil eyes ini juga dijual sebagai suvenir di toko oleh-oleh di Cappadocia loh. Bagi yang minat bisa membelinya untuk sebagai buah tangan.

Pohon yang dihiasi dengan Evil Eyes

Pohon yang dihiasi dengan Evil Eyes

Kami berjalan menuju GOAM hingga akhirnya kami bertiga harus berpisah dengan teman-teman baru kami. Mereka membeli tiket dan masuk ke GOAM, sedangkan kami bertiga terlalu miskin untuk membeli tiket lagi. Akhirnya menurut teman sehotel kami, kami mencoba melalui jalur trekking di sebelah GOAM. Rute “ilegal” ini menawarkan pemandangan yang sama persis yaitu Rose Valley, hanya saja lebih berbahaya (tidak ada path atau jalur yang dibuat) sehingga rutenya agak licin dan menanjak.

Meet the Kurdish - www.jmswnr.com

Bersama teman-teman baru kami

Alone in Goreme Open Air Museum - www.jmswnr.comKami menelusuri jalan di sebelah GOAM dan mendapatkan pemandangan yang sama: bebatuan tinggi yang berlubang-lubang. Karena lubang berbatu ini cukup aman, dahulu digunakan sebagai tempat tinggal warga setempat. Langit yang biru, tanah yang berwarna coklat keabu-abuan, bebatuan yang berdiri kokoh dan tinggi benar-benar menciptakan sebuah pemandangan yang menakjubkan. Dengan trekking di jalur sampingan ini, kami mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Satu, kami tidak harus membeli tiket. Dua, kami bisa mengambil foto sesuka hati tanpa dilewati orang banyak yang berlalu lalang. Pemandangan yang disuguhkan di sini juga tidak kalah hebatnya dengan GOAM versi resminya loh.

Sam dan Lukman bahkan sampai mendaki bebatuan untuk melihat Rose Valley dari ketinggian. Sedangkan saya hanya bisa menunggu di bawah karena sepatu saya rusak, dan sangat tidak nyaman (dan aman) memakai sarung sepatu ini untuk trekking. Tapi untunglah tidak banyak orang sehingga kami bisa dengan bebas menentukan spot foto kami.

Makan dan tidur siang

Matahari sudah mulai di atas kepala, dan akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Goreme dan makan siang. Restoran di Goreme tidak murah, bahkan cenderung mahal. Maklumlah, tempat wisata. Harganya di atas rata-rata, bahkan lebih mahal daripada Istanbul. Kami akhirnya mampir di minimarket dan membeli… Indomie. Yes, Indomie! Mie instan buatan anak negri ini ternyata sudah go international loh! Di sini di-pack dengan kemasan tulisan Turki, dengan rasa daging khas sini. Tapi setelah dimakan, toh rasanya seperti rasa kari ayam 😁.

Oh ya, akhirnya kami deal paket balon udara dan green tour untuk esok hari di hotel kami sendiri. Tentu saja, setelah terjadi proses tawar menawar dengan owner hotel, dan akhirnya disepakatilah harga 160 euro untuk balon udara plus green tour per orang. Setelah membayar, akhirnya kami kembali ke kamar dan tidur siang dengan pulas…

(Bersambung)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cappadocia Day 1: Enjoying Goreme