Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Putihnya Pamukkale, Megahnya Hierapolis, Indahnya Laodicea

Sarapan ala Turki

Sarapan ala Turki

Dari Selcuk/Ephesus, kami naik kereta sore harinya dan langsung menuju ke Denizli, kota transit menuju ke Pamukkale. Dari Denizli kami naik “angkot” setempat menuju Pamukkale. Harganya sangat murah! Per orang hanya TYL 4.5 (atau sekitar 12 ribu rupiah) dengan durasi 20 menit dan langsung turun di alun-alun Pamukkale.

Kami kemudian segera mencari hotel incaran kami: Mustafa Pension Hotel. Hotel ini letaknya sangat strategis dan dekat sekali dengan pintu masuk Pamukkale travertines. Harganya juga tidak terlalu mahal. Untuk sebuah kamar isi 3 orang, kami hanya membayar TYL 180 saja.

Travertines

pamukkale travertines 2 - www.jmswnr.com

Pagi hari setelah kami menikmati sarapan yang disediakan hotel, kami langsung menuju pintu masuk travertines. Travertines di Pamukkale ini adalah perbukitan err.. kapur kalau tidak salah, sehingga warnanya bisa sangat putih. Kami bisa jalan kaki ke atas bukit untuk menuju ke Hierapolis melewati travertines ini. Syaratnya hanya satu: tidak boleh memakai alas kaki. Whatt..?? Are you kidding me? Ini musim gugur mendekati musim dingin dengan suhu hampir 0 derajat! Dan jalan kaki tanpa alas kaki?? Wuidihh….

pamukkale travertines 1 - www.jmswnr.com

Ini sebuah pengalaman yang cukup unik. Beberapa kali kami harus duduk dan mengistirahatkan kaki kami yang kaku kedinginan. Untunglah di beberapa titik mengalir air panas yang paling tidak bisa sedikit membantu. Kami berjalan menanjak, naik dan terus naik, sambil sesekali berfoto-foto dengan latar yang serba putih ini. Untungnya karena dekat dengan hotel kami, kami naik ketika belum terlalu banyak orang sehingga lebih leluasa untuk mengambil foto. Cantik sekali!

Hierapolis

Ada papan petunjuk di Hierapolis

Ada papan petunjuk di Hierapolis

Hierapolis - www.jmswnr.comSetelah tiba di atas, ternyata perjalanan kami belum berakhir. Terdapat reruntuhan sebuah kota kuno di sini yang dikenal dengan nama Hierapolis. Kota ini dibangun pada era Yunani Romawi sehingga arsitekturnya sangat kental dengan nuansa klasik. Karena area ini sangat luas, maka saya tidak akan menjabarkan satu per satu area yang menarik di sini. Yang jelas, beberapa area ini kami jelajahi (tidak sampai habis), dan kami bisa melihat peninggalan kota peradaban kuno. Seperti di film-film Troya! Oya, untuk melihat setiap lokasi dari Hierapolis ini, kalian harus mendaki dan berjalan agak jauh ya. Jadi siapkan stamina.

Amphitheater of Hierapolis

amphitheater of hierapolis 3 - www.jmswnr.com

Ini adalah salah satu highlight di Hierapolis. Amphitheater ini sangat indah dan salah satu amphitheater yang masih utuh yang tersisa di dunia. Di dalamnya kita masih bisa melihat susunan anak-anak tangga yang rapi, kemudian di bagian “panggung” juga kita masih bisa melihat arsitektur batu yang tersusun rapi dan cantik. Persis seperti kami masuk mesin waktu dan dibawa kembali ke era tersebut. Amphitheater ini juga salah satu alasan mengapa harus mengunjungi Pamukkale.

Selebihnya dari Hierapolis ini kita bisa melihat reruntuhan bangunan-bangunan kejayaan masa lalu. Pada beberapa lokasi, ada papan keterangan mengenai bangunan apa itu pada masa lalunya termasuk penjelasannya. Ada hamam (pemandian) jaman dulu, kuil pemujaan dewa-dewi Yunani, rumah tempat tinggal orang, dan lain sebagainya.

amphitheater of hierapolis 2 - www.jmswnr.com amphitheater of hierapolis 1 - www.jmswnr.com

Waktu kami hanya setengah hari di Pamukkale ini karena kami harus check out hotel dan kembali ke Denizli untuk pergi ke destinasi selanjutnya. Tapi ternyata ada satu itinerary sisipan yang menarik loh setelah dari Pamukkale ini. Apakah itu?

Laodicea on the Lycus

Sebenarnya kami pergi Laodicea ini tanpa terencana. Kami harus checkout hotel jam 12 siang, dan kemudian harus kembali ke Denizli untuk membeli tiket menuju Goreme, Cappadocia. Dari Pamukkale menuju Denizli juga sama seperti perginya. Kami menunggu “angkot” di alun-alun Pamukkale dan perjalanan 20 menit ke Denizli dengan membayar TYL 4.5 per orang saja.

Tiba di Denizli, kami langsung membeli tiket bus malam menuju Goreme, Cappadocia. Beruntung setelah tawar menawar, akhirnya kami mendapatkan karcis bus malam seharga TYL 90  saja per orang (aslinya TYL 110). Jangan sungkan untuk menawar ya.. Kebanyakan turis bule yang tidak menawar dapat karcis TYL 110. Dasar kita orang Asia, always haggle the price dan dapat potongan loh. Yay!

Quick tips: Jangan membeli karcis bus dari Denizli ke Goreme lewat website. Bus malam tidak terlalu ramai, sehingga kita pasti bisa mendapatkan karcis dengan walk-in ke loket stasiun Denizli. Jangan lupa tawar menawar ya. Siapa tahu bisa mendapatkan harga yang lebih murah.

laodicea pamukkale 1 - www.jmswnr.com

Bus kami berangkat pukul 7 malam, sedangkan jam masih jam 2 siang kurang. Setelah makan siang dengan menu kebap di salah satu kedai stasiun, kami pun bersantai-santai mengobrol dan berlama-lama di kedai itu. Tiba-tiba saya melihat tiket masuk travertines tadi dan melihat ternyata masih ada sisa satu tiket lagi untuk Laodicea on the Lycus. Terbesit ide, daripada bengong lima jam mendingan kita pergi ke destinasi terakhir di Pamukkale ini. Kedua teman saya mengiyakan, dan akhirnya kami menitipkan bagasi dan tas kami di loket karcis bus tadi.

Kami menuju lantai bawah stasiun itu (tempat kami naik angkot ke Pamukkale) dan naik angkot yang sama yang jurusan ke Pamukkale itu. Hanya saja kami sampaikan ke supir untuk menurunkan kami di dekat Laodicea. Perjalanan 10 menit saja kami sudah disuruh turun di salah satu persimpangan jalan. Dan setelah itu kami harus berjalan kaki sejauh 1 km untuk sampai di pintu masuk Laodicea. Cukup jauh!

Kami tiba di Laodicea sekitar jam 3 kurang, dan hanya punya waktu dua jam di sini (tutup jam 5). Laodicea ini berbeda sekali dengan Hierapolis dan travertines di Pamukkale. Tidak banyak orang. Sepi sekali. Bahkan ketika kami sampai di sana, hanya ada 1 bus pariwisata yang membawa rombongan orang Korea, dan 1 van sewaan saja. Selebihnya hanya kami! Wow!! Langsung cekrak-cekrik, kami bisa mengambil foto dengan bebas tanpa terganggung siapapun.

Laodicea memang kurang populer dibandingkan Hierapolis, tapi situs ini sangat cantik. Terdapat lantai kaca di mana kita bisa melihat tanah dan bebatuan asli dari kota ini pada jaman dulunya. Ada juga pilar-pilar jaman dulu yang berdiri kokoh. Kita juga bisa melihat sebuah jalan yang mana merupakan jalan utama di kota tersebut pada jamannya. Keren!

laodicea pamukkale 2 - www.jmswnr.com

Tak terasa jalan-jalan dan sesi foto kami harus berakhir karena matahari sudah mulai terbenam. Kami pun cepat-cepat keluar dari area ini, dan berjalan kaki 1 km lagi ke perempatan untuk mengetem angkot yang akan mengangkut kami kembali ke Denizli untuk menuju destinasi kami selanjutnya: Cappadocia.

(Bersambung..)

More stories about

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Putihnya Pamukkale, Megahnya Hierapolis, Indahnya Laodicea