Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Taksim, denyut jantung Istanbul

Hari kedua di Istanbul, kami memutuskan untuk berangkat lebih pagi menuju ke area Taksim dan sekitarnya. Pertama kami naik tram dari Sultanahmet Square dan turun di daerah Beyoglu. Setelah itu kami berjalan kaki sekitar 10 menit menuju destinasi pertama kami yaitu..

Dolmabahce Palace

Dolmabahce Palace tampak depan

Dolmabahce Palace tampak depan

Menurut cerita, istana megah dan mewah ini dibangun sebenarnya untuk menutupi kemunduran yang dialami oleh kerajaan Ottoman kala itu. Desain arsitekturnya sangat Eurasia sekali, dan mirip sekali dengan desain Winter Palace di Rusia yang saya kunjungi tahun lalu. Gerbang yang megah, kolam, kemudian view ke selat Bosphorus ini benar-benar sangat unik. Berbagai ruangan di dalamnya juga terkesan sangat megah dan indah. Sayangnya turis dilarang mengambil gambar bahkan menggunakan ponsel sekalipun. Jadinya yah, hanya bisa dinikmati saja ya.. (Ada beberapa foto yang diam-diam saya ambil. Pssstt.. jangan bilang-bilang ya 😁 )

Pelataran Dolmabahce Palace

Pelataran Dolmabahce Palace

Interior yang sangat mirip dengan Winter Palace Rusia

Interior yang sangat mirip dengan Winter Palace Rusia

Istiqlal Sarayi (Istiqlal Avenue)

Dari Dolmabahce Palace, kami berjalan kaki kurang lebih 15 menit lagi menuju stasiun furnicular F1 menuju ke Taksim Square. Hanya satu perhentian saja jalur F1 ini.

Istiqlal Avenue

Istiqlal Avenue

Istiqlal Avenue sebenarnya merupakan satu jalan yang sangat panjang dan ditutup untuk pejalan kaki. Kiri kanannya banyak toko dan restoran. Mirip-mirip Nanjing Road di Shanghai gitu.. Bedanya dengan Grand Bazaar, toko-toko di sini lebih teratur, lebih bersih, dan lebih ke kelas middle-up. Kita bisa dengan mudah menemui beberapa brand terkenal dunia di sini. Banyak juga kedai-kedai penjaja kebap di sini (tulisan kebap, pakai “p”, bukan “b” ya…) serta banyak toko yang berjualan roti dan turkish delight/baklava. Banyak juga pemusik-pemusik jalanan yang “ngamen” di sepanjang jalan ini. Kualitas suara mereka juga oke punya loh.

Tram klasik di Istiqlal Avenue

Tram klasik di Istiqlal Avenue

Konak (?) Kebap

Konak (?) Kebap

Di Istiqlal Avenue ini juga ada salah satu tram terklasik di Turki loh. Kalau ada waktu bisa mencoba naik tram klasik ini sekalian walk down memory lane.

Church of St. Anthony of Padua

Salah satu gereja yang tak sengaja kami temukan dan kunjungi ketika berjalan-jalan di area Istiqlal Avenue. Arsitektur gereja luar ini mirip dengan katedral-katedral yang indah dari Eropa (dan somehow mengingatkan saya pada Gereja Katolik Katedral peninggalan Belanda di Jalan Kepanjen Surabaya). Bangunannya sangat cantik dan wajib mampir ke sini bila sedang berjalan-jalan di area Istiqlal ya.

Church of st anthony of padua - www.jmswnr.com

Dari Istiqlal Avenue, kami berjalan terus, turun dan turun hingga akhirnya mencapai…

Galata Tower

Di atas Galata Tower ini kita bisa melihat pemandangan kota Istanbul 360 derajat. Tapi sayangnya kami tidak naik karena antriannya mengular panjang sekali. Menurut orang-orang yang di sana, mereka mengantri untuk naik ada yang 1 jam, ada yang sudah 2 jam. Kami memutuskan untuk berfoto-foto di bawahnya saja dan melanjutkan perjalanan kami terus ke bawah menuju jembatan Galata.

Galata Tower

Galata Tower

Golden Horn dan Galata Bridge

Salah satu jembatan terkenal di Istanbul adalah Galata Bridge. Dari sini kita bisa menyeberang dengan berjalan kaki sambil menikmati pemandangan cantik Golden Horn Cape. Terdapat jalur untuk pejalan kaki di sini. Di sisi bawah jembatan banyak orang berjualan, sedangkan di sisi atas banyak orang yang memancing. Kami memutuskan untuk berjalan lewat sisi yang atas agar bisa melihat pemandangan kota dengan leluasa. Dengan berjalan kaki selama 10-15 menit saja kami sudah sampat di daerah Sultanahmet lagi dan langsung mengunjungi Egyptian Bazaar (atau spice bazaar). Sebelumnya kami berhenti dulu di sisi Golden Horn untuk membeli Balik Emnek (roti isi ikan sarden yang sangat terkenal di Turki).

Galata Bridge di mana kita bisa menikmati landscape Istanbul

Galata Bridge di mana kita bisa menikmati landscape Istanbul

Egyptian Market

Pasar ini sangat sangat ramai! Penuh sesak dengan orang-orang yang berlalu lalang. Bahkan sempat deadlock di sebuah persimpangan di dalam pasar bahkan kami tidak bisa maju atau mundur selangkahpun. Berdesak-desakan! Sungguh tidak nyaman. Tapi untunglah setelah masuk ke dalam komplek bazaar yang tertutup, suasana lebih lega.

Egyptian Bazaar - atau disebut juga Spice Bazaar

Egyptian Bazaar – atau disebut juga Spice Bazaar

Isi dari Egyptian Market ini kurang lebih sama dengan Grand Bazaar. Sebagian besar orang berjualan perhiasan, bumbu, lampu, baklava, dan pakaian serta barang-barang produksi China. Dan juga menurut Samuel (teman trip saya), arsitekturnya mirip sekali dengan pasar Ampel yang ada di Surabaya loh.

Perhatikan warna arch-nya, mirip dengan kain Mesir kan?

Perhatikan warna arch-nya, mirip dengan kain Mesir kan?

(Bersambung..)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Taksim, denyut jantung Istanbul