Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Istanbul: Satu Kota di Dua Benua

Trio Backpacker - Samuel, Lukman, and me

Trio Backpacker – Samuel, Lukman, and me

Turki, salah satu negara destinasi yang memang sudah kuidam-idamkan. Mengunjungi Hagia Sophia (dibaca: Aya Sofya) yang merupakan saksi jaman, menelusuri rumitnya labirin di dalam Grand Bazaar, mencicipi Turkish Kahve (kopi Turki) yang terkenal di seluruh dunia, dan berlayar di Selat Bosphorus yang memisahkan dua benua. Masih banyak lagi checklist yang memang sudah saya rencanakan dari dulu-dulu.

Beruntunglah pada pameran Singapore Airlines (SQ) bulan Agustus 2019 kemarin, saya bersama kedua sahabat saya: Lukman dan Samuel, berhasil mendapatkan tiket murah ke Turki. Kami mendapatkan tiket pp seharga 9.2 juta rupiah, dengan rute Surabaya – Singapore – Istanbul, belum termasuk cashback dan juga voucher Changi Airport yang merupakan bonus untuk kami. Murah. Dan waktu transit tidak panjang dan bertele-tele. Kami pun memutuskan untuk mengambil tiket tersebut dengan keberangkatan bulan November 2019 ini.

Setelah perjalanan panjang (kurang lebih 15 jam dalam pesawat belum termasuk waktu transit), akhirnya tiba juga di Istanbul. Oya untuk pemegang paspor Indonesia sebelumnya bisa mengajukan e-visa via internet sebelum berangkat ke Turki. Cara mengurusnya ada di link sini ya. Mendarat di Istanbul International Airport, bandara ini salah satu bandara terbesar yang pernah saya datangi. Coba bayangkan kami harus berjalan kaki kurang lebih 20 menit untuk mencapai imigrasi!

Lewat imigrasi dan setelah mengambil bagasi, kami langsung menuju ke lantai dasar dan membeli tiket Havabus untuk menuju ke kota. Harga tiket sekali jalan menuju pusat kota adalah 18 TYL. Kebetulan kami sudah booking sebuah kamar apartmen di daerah Sultanahmet jadi tujuan kami ya Sultanahmet itu. (Untuk segmen tips selama di Turki, akan saya post dalam cerita terpisah yaa..)

Tips: dari bandara bisa pergi ke kota dengan menggunakan Havabus. Tanyalah pada orang-orang di sana, naik bus dari platform mana untuk menuju Sultanahmet atau Taksim ya. Kemudian beli tiket dan naik. Jauh lebih murah naik Havabus ini daripada naik taksi.

Antri Istanbulkart

Antri Istanbulkart

Oya, secara umum, ada tiga downtown di Istanbul ini yang paling sering dikunjungi (dan ditinggali) para turis. Daerah Sultanahmet, daerah Taksim, dan Asian side (sisi Asia). Objek wisata dari ketiga daerah ini juga beragam. Bila suka dengan objek wisata seperti Hagia Sophia, Topkapi Palace, dan Grand Bazaar, carilah penginapan daerah Sultanahmet. Bila suka belanja, pilihlah daerah Taksim. Bila mencari lokasi yang serba murah (mulai dari makanan hingga penginapan) bisa tinggal di Istanbul sisi Asia.

Oke, lanjut. Kami naik Havabus turun di Sultanahmet Square, sebuah “alun-alun” yang darimana kita bisa melihat Hagia Sophia, Blue Mosque, dan Topkapi. Semua objek wisata yang ada di daerah Sultanahmet itu satu area semua, dan bisa kita kunjungi dengan hanya berjalan kaki (kecuali ke Grand Bazaar). Saya bahas satu-satu yah…

Hagia Sophia

Inside Hagia Sophia

Inside Hagia Sophia

Is it a mosque? Is it a church? Yes, it was both.

Dibangun pada era kerajaan Romawi, Hagia Sophia awalnya dibangun sebagai sebuah katedral sehingga banyak terdapat lukisan dan gambar lambang kekristenan di dalamnya. Ketika era Romawi berakhir dan Istanbul di bawah kekuasaan kerajaan Ottoman, Hagia Sophia diubah fungsinya sebagai masjid, bahkan Jumatan pertama sejak kekuasaan Ottoman diadakan di Hagia Sophia. Pada era Ottoman, lukisan-lukisan dan lambang kekristenan di dalam Hagia Sophia kemudian dihapus dan ditutup.

Setelah kerajaan Ottoman berakhir dan tergantikan oleh republik, presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Attaturk, mengubah fungsi Hagia Sophia menjadi museum. Sejak saat itu perlahan-lahan tembok asli yang terdapat lukisan lambang kekristenan itu mulai direstorasi kembali.

Lukisan asli yang berhasil direstorasi kembali

Lukisan asli yang berhasil direstorasi kembali

Di dalamnya kita bisa melihat lukisan asli jaman Romawi yang sudah berhasil direstorasi. Begitu pula dengan berbagai peninggalan sejak jaman Romawi dan Ottoman. Benar-benar sebuah tempat yang merupakan saksi sejarah dua peradaban yang pernah menguasai Turki.

Langit-langit asli Hagia Sophia

Langit-langit asli Hagia Sophia

Topkapi Palace

Inside Hagia Irene

Inside Hagia Irene

Istana yang terletak dekat Hagia Sophia ini terdiri dari sebuah kompleks yang sangat luas. Di dalamnya terdapat Hagia Irene, Topkapi Palace itu sendiri, ruangan untuk para Harem dan lain sebagainya. Kami hanya berhasil memasuki Hagia Irene dan mengambil foto di sana. Sedangkan karena sesuatu hal, kami batal masuk ke dalam Topkapi Palace. Sungguh sangat disayangkan saat itu.

Blue Mosque

Terdapat ratusan bahkan ribuan masjid besar-kecil yang tersebar di seantero Istanbul. Salah satu masjid yang paling diminati wisatawan maupun jamaah adalah Blue Mosque. Letaknya persis di Sultanahmet Square. Turis yang non-muslim pun diperbolehkan masuk. Hanya saja para wanita yang hendak masuk harus mengenakan pakaian yang tertutup dan sopan, serta menutup kepalanya dengan jilbab. Kain ini dipinjamkan di depan area masjid.

Basilica Cistern

Inside Basilica CIstern

Inside Basilica CIstern

Merupakan salah satu gereja bawah tanah. Antrian masuk ke Basilica ini cukup panjang, dan tidak bisa memakai Museum Pass. Kita harus membeli tiket seharga 20 TYL. Di dalam Basilica Cistern ini suasananya gelap dan basah. Di dalamnya juga kita bisa melihat ukiran kepala Medusa pada dua tiang yang ada di ujung dalam Basilica Cistern ini.

Tiang patung kepala Medusa

Tiang patung kepala Medusa

Grand Bazaar

Untuk mencapai Grand Bazaar dari Sultanahmet, kita bisa naik tram. Sebelumnya kita harus membeli IstanbulKart terlebih dulu dan mengisi saldonya untuk bisa naik transportasi umum selama di Istanbul.

Lost in Grand Bazaar

Lost in Grand Bazaar

Grand Bazaar benar-benar sebuah kompleks are perdagangan yang sangat luas dan besar. Lost in Grand Bazaar.. kami sempat tersesat di dalamnya! Berbagai macam pedagang menjajakan dagangannya mulai dari turkish delight, turkish baklava, bumbu-bumbu, lampu, karpet, hingga barang-barang KW buatan China ada di sini. Kami sendiri tidak membeli apa-apa, hanya melihat-lihat saja dan larut dalam keramaian di sana.

(Bersambung)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Istanbul: Satu Kota di Dua Benua