Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Pangong Lake, The Magical Place on Himalaya

Pangong Lake on Himalaya

Hari ketiga kami memutuskan untuk pergi ke Pangong Lake. Sebelumnya kami ditawarkan dua alternatif: Pangong Lake atau Nubra Valley. Kami tidak bisa pergi ke kedua tempat di satu trip bersamaan karena akan sangat melelahkan dan jaraknya jauh sekali. Akhirnya pilihan kami jatuh kepada Pangong Lake yang terkenal keindahannya.

Pangong Tso atau Pangong Lake (bacanya Pang-gong, bukan Pa-ngong) adalah salah satu danau air asin tertinggi di dunia. Terletak di ketinggian 4,350 mdpl di pegunungan Himalaya, danau ini terbentang antara 2 negara: India dan China. 60% dari danau ini masuk daratan China, sisanya merupakan milik India. Jadi tidak heran daerah ini dipenuhi oleh tentara yang menjaga perbatasan. Tak terasa dekat banget sama Tibet (China) kalau berada di sini.

Road to Pangong Lake

Perjalanan menuju Pangong Lake adalah perjalanan paling menyiksa, menegangkan, dan paling melelahkan (padahal cuma duduk). Bagaimana tidak. perjalanan pulang pergi dari Leh – Pangong 10 jam! Yes, 5 jam pergi dan 5 jam pulang. Belum lagi jalanan berkelok-kelok khas pegunungan yang bikin kepala pusing. Yang paling parah adalah jalan yang ditempuh. Bayangkan, berada di ketinggian 3,500 mdpl, dengan jalan selebar cukup untuk 2 mobil saja, dengan satu sisi jurang terjal!

Saya duduk di depan, samping pengemudi, sedangkan Lala duduk di baris kedua. Mobil yang kami tumpangi sejenis Kijang jaman dulu dengan mesin diesel dan 4WD yang didesain untuk lincah di pegunungan. Supir kami seorang bapak tua tampak cekatan mengemudi di jalanan penuh adrenalin ini. Perjalanan panjang, tapi kami berdua tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Ada dua alasan kenapa:

Pemandangan mengerikan namun indah memukau

Pemandangan mengerikan namun memukau

Pertama, medan yang sangat berbahaya. Tepi jurang, jalanan selebar dua mobil, jalan yang berkelok-kelok. Bahkan di beberapa area setelah Chang-la Pass, terlihat banyak bangkai truk tentara yang jatuh di jurang. Kami bahkan sering berpapasan dengan truk-truk tentara yang gedenya amit-amit (di jalanan sesempit itu). Akhirnya kami harus mengalah mengantri di belakang sampai dapat kesempatan untuk menyalip. Sepanjang perjalanan kami selalu dipenuhi ketegangan dan rasa pusing karena jalan yang berkelok-kelok.

Alasan kedua kami tidak bisa memejamkan mata adalah pemandangan yang sangat-sangat luar biasa terhampar di hadapan kami sepanjang perjalanan. Betapa agung, betapa indah, betapa luar biasa pemandangan yang terhampar. Gunung-gunung yang tinggi dengan puncak yang berselimutkan salju putih seperti es krim cone, kecantikan salju-salju ketika kami melewatinya, hewan-hewan dataran tinggi seperti yak dan (sejenis) musang di sepanjang perjalanan. Benar-benar suatu pemandangan yang tidak kita saksikan setiap hari.

Handstand on Pangong Lake on Himalaya

Setelah 5 jam perjalanan menyiksa ini, akhirnya kami tiba di Pangong Lake. Danau ini memang seindah seperti yang dideskripsikan di blog-blog traveling lainnya. Dataran yang berwarna coklat keabuan, air yang sangat jernih, memantulkan warna biru sempurna dari langit. Warna langit di sini benar-benar biru dengan awan putih. Berbeda sekali dengan langit perkotaan semacam Jakarta yang buram dan berkabut karena polusi. Kabarnya bila malam tiba, bintang-bintang akan terlihat dengan sangat jelas, dengan sebuah bintang jatuh setiap lima menit!

Kareena Kapoor's 3 Idiots scooterPangong Lake ini memang benar-benar cantik. Di sana saya dan Lala menikmati berbagai ehm.. foto spot yang disediakan oleh pemerintah setempat. Salah satunya adalah skuter Kareena Kapoor dalam film Bollywood “3 Idiots”. Ending film ini bersetting Kareena Kapoor ber-skuter ria di Pangong Lake. Untuk berfoto menaiki skuter kuning ini kami harus membayar sejumlah uang (kalau tidak salah 150 rupee).

Yak on Pangong Lake on HimalayaSpot kedua adalah yak. Tau yak? Yak adalah sejenis… ehm.. kerbau berbulu lebat yang hidup di daerah ketinggian seperti Himalaya. Hewan ini banyak terdapat di Tibet dan Mongolia. Yak biasanya ditunggangi, dan susunya bisa diminum untuk stamina. Kami boleh berfoto menaiki yak, dan (lagi-lagi) harus membayar sejumlah uang (150 rupee).

Spot lainnya adalah keindahan Pangong Lake itu sendiri. Kami memuaskan mata kami untuk melihat pemandangan yang luar biasa ini. Belum tentu kami akan kesini lagi dalam waktu dekat (perjalanannya sangat luar biasa beratnya). Saya dan Lala bergantian saling mengambil foto. Seolah kami tidak ingin berpisah dengan danau ini, kami terus menerus memuji kecantikan danau ini.

Pangong Lake on Himalaya

Pangong Lake adalah objek wisata yang wajib dikunjungi bila Anda mengunjungi Leh Ladakh. Perjalanan yang berat akan sirna begitu Anda tiba di tempat ini. Kecantikannya tiada tara. Sebuah pemandangan tak biasa akan memanjakan mata siapapun yang berkunjung ke sini. Birunya langit, beningnya air danau, dipadu dengan alam padang gurun pegunungan membuat siapapun tidak akan rela berpisah dengannya.

(Kami tidak bisa berlama-lama di Pangong karena kami harus kembali menempuh perjalanan 5 jam menuju Leh. Perjalanan malam akan sangat beresiko karena jalanan yang tanpa lampu dengan badai salju tiba-tiba. Akhirnya setelah makan siang kami memutuskan kembali ke Leh, membawa pengalaman luar biasa ini dalam hati kami.)

Jalanan yang kami lewati

Jalanan yang kami lewati

Bersama yak dan pemiliknya

Bersama yak dan pemiliknya

Hewan apa ini?

Hewan apa ini?

More stories about ,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pangong Lake, The Magical Place on Himalaya