Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Landing on Himalaya for the first time

AMS warning

Turun dari pesawat, menginjak daratan pegunungan Himalaya untuk pertama kali, adalah sesuatu yang luar biasa! Tidak pernah terbayang sebelumnya akan menginjakkan kaki di salah satu pegunungan terbesar dan tersohor di Asia ini. Hamparan pemandangan yang unik, tiada duanya, benar-benar membuat saya terkagum-kagum seperti berada di dunia lain.

Kota Leh, adalah ibukota di propinsi Ladakh di India. Terletak 3,500 meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat setiap orang yang datang dari dataran rendah harus membiasakan diri terlebih dahulu dengan ketinggian. Bahkan ketika berada di bandara Leh pun sudah ada papan pengumuman besar yang memberi peringatan dan tips agar tidak terserang penyakit ketinggian.

Gejala penyakit ketinggian atau biasa disebut Altitude Mountain Sickness (AMS) ditandai dengan sakit kepala, pusing, nafas pendek-pendek, atau mual karena tipisnya kadar oksigen di ketinggian. Setiap orang yang datang ke Leh diminta untuk menyesuaikan diri dulu (acclimatize) dulu sehari sebelum beraktivitas di Leh. Begitu bertemu dengan supir yang membawa kami ke hotel, kami diminta untuk istirahat dulu sehari menyesuaikan iklim ketinggian. Caranya adalah duduk di kamar hotel, tidak boleh tidur hingga malam hari. Kalau tidur ditakutkan tambah pusing. Padahal kami sampai di Leh jam 10 pagi. Duduk menganggur tanpa koneksi internet, tanpa majalah, dan tidak boleh tidur siang benar-benar menyiksa.

Pemandangan dari luar hotel kami

Pemandangan dari luar hotel kami

Sekitar sore hari, Lala yang bosan duduk-duduk pun akhirnya tertidur. Akibatnya, ketika dia bangun kepalanya pusing dan sakit. Karena tipisnya kadar oksigen, kami juga sudah ngos-ngosan padahal baru naik tangga satu lantai. Biasanya kalau di Surabaya, saya tidak kesulitan naik tangga hingga ke lantai 3 rumah saya. Tapi di Leh, baru naik satu lantai saja sudah berasa lari 1 km.

Sebenarnya ada obat untuk mempercepat proses adaptasi ini. Nama obatnya Diamox, dijual bebas, namun harganya mahal. Pertolongan lain untuk AMS ini adalah tabung oksigen yang dijual bebas di apotik di Leh. Harganya sekitar 90 ribu rupiah per tabung kecil (hanya beberapa kali isapan saja). Penasaran, kami pun membeli satu dan ditaruh di kamar untuk jaga-jaga.

Leh Market

Sore harinya, supir mengantarkan kami menuju Leh Market. Pasar lokal ini terletak di jantung kota Leh, dan banyak sekali toko-toko di sana. Toko di sana tutup jam 5 sore, dan kami sampai di sana jam 4. Praktis kami hanya mempunyai waktu satu jam untuk explore.

Di market itu, banyak toko yang berjualan pasmina, syal, bahkan kain corak India dan Tibet Tibet Marketlainnya. Ada juga beberapa toko obat yang menjual tabung oksigen dan obat generik lainnya. Selain itu juga terdapat Tibetan Refugee Market (atau pasar pengungsi orang Tibet) yang berjualan pernak-pernik khas Tibet seperti bendera Tibet, patung biksu Tibet, aksesoris dan perhiasan seperti konde dan kalung, cincin, pigura, hiasan rumah, dan segala sesuatu khas Tibet. Oya, orang-orang di Leh ini didominasi oleh suku minoritas yang wajahnya mirip orang-orang Tibet: mata sipit, kulit hitam, wajah seperti wajah orang China. Namun mereka menolak disebut orang Tibet. Mereka lebih memilih disebut Indian (orang India).

Tak banyak yang bisa dilihat di pasar kecil ini. Setelah membeli beberapa barang oleh-oleh untuk teman-teman di tanah air, kami kembali menuju hotel karena hari sudah mulai gelap dan suhu sudah mulai dingin. Suhu malam hari terkadang bisa mencapai 2 derajat celcius. Padahal siang harinya matahari cukup terik. Oya, selama di Leh disarankan untuk tetap memakai kacamata hitam (sunglasses) ketika keluar siang hari ya. Karena jarak matahari yang lebih dekat, maka sinar UV pun memancar lebih terik. Sinar UV ini bisa merusak mata dan kulit. Oleh sebab itu jaket dan kacamata anti-UV merupakan barang wajib selama traveling ke Leh.

More stories about ,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Landing on Himalaya for the first time