Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Keunikan Kolkata – kota penuh warna

James with the old taxi of Kolkata India

Sebelum pulang ke negara masing-masing, saya dan Lala memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di Kolkata. Kota yang dulunya bernama Calcutta ini terkenal kumuh dan penuh orang miskin. Motivasi kami menuju Kolkata ini adalah untuk berziarah ke rumah Bunda Teresa (lihat jurnal sebelumnya). Di tulisan ini saya ingin sedikit membagikan hal-hal yang menarik di Kolkata ini.

Tidak sekumuh itu

Jujur, imej pertama kami tentang kota ini: kumuh. Namun ketika kami mendarat di airport, seketika image itu lenyap seketika. Kolkata lebih bersih dan lebih teratur dari apa yang dibayangkan. Pohon-pohon ditanam di kiri kanan jalan, asap kendaraan tidak setebal di Agra dan Delhi, dan lalu lintas di sana lebih lengang dari Delhi.

Pesawat yang kami tumpangi selanjutnya adalah jam 12 dini hari (sedangkan kami tiba di Kolkata jam 10 pagi). Kami memutuskan untuk mencari hotel transit, daripada harus luntang-lantung di bandara. Hotel yang kami cari pun dekat dengan bandara (hanya 10 menit naik taksi), dan murah. Sepanjang perjalanan dari bandara ke hotel dengan taksi uber pun kami merasa kota ini sudah lebih maju daripada apa yang ada di bayangan kami.

Hotel transit terburuk

Kami memutuskan untuk menyewa hotel dekat bandara agar kami bisa beristirahat sejenak sambil menunggu penerbangan tengah malam kami. Kami memilih Golden Heaven Hotel & Restaurant, sebuah hotel budget dekat bandara, yang terletak pinggir jalan raya.

Golden Heaven HotelHotel ini sih ratenya bintang tiga di Agoda, namun bagi kami lebih cocok disebut hotel kelas melati. Suasananya terbilang kotor, resepsionis yang sama sekali tidak representatif. Kami mendapatkan sebuah kamar di lantai tiga yang menghadap jalan raya. Di sinilah disaster dimulai.

Semua orang tahu kalau traffic di India adalah traffic paling kacau dan berisik di seluruh dunia. Pengguna jalan sering membunyikan klakson berulang-ulang tanpa sebab dan tanpa peduli jam berapa. Sangat berisik! Saya ulangi: sangat-sangat berisik! Berulang kali kami mencoba tidur tapi terbangun gegara kaget oleh bunyi klakson. Tips mencari hotel di India: minta kamar setinggi mungkin, dan sebisa mungkin hindari kamar yang menghadap jalan raya. Lebih baik pilihlah kamar yang tidak berjendela tapi tenang.

Kasur di hotel ini juga sudah kempes dan keras. Kacaunya lagi, badan saya gatal-gatal setelah tidur di sana. Saya sampai harus mengalasi kasur dengan handuk agar kulit saya tidak kontak langsung dengan kasur.

Kamar mandinya pun sangat standar. Sebuah shower dengan sebuah ember mandi (plus gayung) dan wastafel kecil. Jujur saya semakin tidak yakin dengan kualitas air sana sehingga saya terpaksa berkumur dengan air mineral setelah gosok gigi.

Pelayanan hotel ini diperparah dengan lamanya memasak makanan pesanan kami. Kurang lebih 45 menit setelah kami memesan menu makanan, baru makanan dihidangkan. Padahal kami sudah kelaparan.

Pay only Dispalayed Fare

Taksi kuning, taksi kuno

Hal menarik lainnya adalah berbagai taksi dan bus kuno yang masih berseliweran di Kolkata ini. Umumnya taksi di Kolkata sudah didominasi taksi uber, namun kami melihat masih banyak taksi kuno. Taksi ini dicat berwarna kuning (meniru taksi New York) dan model-modelnya sudah sangat kuno.

Lala with old taxi in Kolkata IndiaSaya dan Lala memutuskan untuk merasakan pengalaman unik mencoba taksi kuno ini. Dari rumah Bunda Teresa, kami naik taksi kuning ini pulang ke hotel. Supir taksi kuning ini kebanyakan orang tua dan tidak fasih berbahasa Inggris. Mulanya kami kesulitan memberitahu tujuan kami. Dibantu oleh seorang pejalan kaki, akhirnya supir taksi kuno ini paham tujuan kami. Dan jangan harap taksi ini pakai argo, apalagi kalau sama turis. Setelah sepakat dengan satu harga, akhirnya kami naik.

Pengalaman ini lebih mirip naik bajaj daripada naik taksi. Tidak pakai argo, harga berdasarkan kesepakatan penumpang-supir taksi. Tidak ada AC, keempat kaca jendela terbuka lebar sehingga debu-debu dari luar masuk semua. Supir taksi menyetel musik India keras-keras dan terkadang bernyanyi-nyanyi sendiri. Saya dan Lala tertawa dalam hati, merasakan keunikan naik taksi kuno ini. Sebuah pengalaman yang luar biasa dan unik!

Street in Kolkata IndiaSepanjang perjalanan dari rumah Bunda Teresa menuju hotel, kami melihat sedikit dari kehidupan di Kolkata ini. Sebuah kota penuh warna yang indah. Bagi Anda yang hobi fotografi, kota ini sangat pas untuk memuaskan hasrat street photography. Berbagai warna khas India (kuning oranye, hijau terang, dan warna norak lainnya) bertebaran di jalanan di kota ini, mulai dari mural, baliho, sampai shop sign. Orang-orang berlalu-lalang di jalanan kota ini, tua muda, dan saling berinteraksi. Sebuah surga bagi para street photographer.

Pemandangan unik lainnya adalah bus-bus kuno. Sering melihat film India klasik? Tahu bus-bus jaman dahulu yang sering membonceng koper dan bagasi di atasnya? Nah seperti itulah pemandangan yang saya saksikan selama di Kolkata. Bus-bus kuno masih lalu lalang di kota, dan banyak bus yang mengangkut koper-koper di atasnya. Yes, di atas bus! Edan bukan?

Kolkata sebuah kota penuh warna dan keunikan yang luar biasa. Pengalaman yang dirasakan di Delhi akan sangat berbeda di sini. Sebenarnya masih banyak hal yang diexplore di sini, namun karena keterbatasan waktu, kami hanya bisa mengunjungi beberapa tempat di Kolkata ini. Dan saya mereferensikan kota Kolkata ini bagi setiap orang yang hobi street photography. Ini surga bagi photograher yang ingin mencari objek street life yang penuh warna dan keunikan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Keunikan Kolkata – kota penuh warna