Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Kolkata dan Bunda Teresa

Sebenarnya saya dan Lala bisa saja langsung pulang ke negara masing-masing dari Delhi. Namun sebelum pulang ke Delhi, saya mengajak Lala untuk “transit” di Kolkata terlebih dahulu. Emang ada apa di Kolkata sehingga saya memutuskan untuk transit di sana sejenak?

Mother House of Charity

Mother House of the Missionaries of Charity

Alias rumah Bunda Teresa yang tersohor itu. Saya bukan seorang Katolik, namun kisah Bunda Teresa yang mengabdikan dirinya untuk melayani kaum miskin dan papa di Calcutta (sebelum berganti nama menjadi Kolkata). Motivasi utama saya mengunjungi Kolkata adalah berziarah ke rumah (atau makam) Bunda Teresa juga.

Bunda Teresa adalah seorang biarawati berkebangsaan Albania, sebelum akhirnya pindah ke India, melayani di sana, dan akhirnya memilih pindah kewarganegaraan. Tergerak oleh hati yang penuh kasih, beliau melayani kaum miskin dan lapar di Calcutta saat itu, menolong banyak orang, dan mengabdikan hidupnya untuk menolong orang lain. Mother House of the Missionaries of Charity merupakan sebuah yayasan kasih yang bersifat sukarela untuk menolong orang-orang miskin yang didirikan Bunda Teresa saat itu. Kebaikan dan sikap hati Bunda Teresa membuat gereja Katolik mentahbiskan beliau menjadi seorang Santa (orang suci agama Katolik). Tak heran peziarah-peziarah dari seluruh dunia datang berbondong-bondong menuju Kolkata untuk “sungkem” di rumah Bunda Teresa ini.

Mother House of Charity

Rumah tenang, rumah damai

Rumah bunda Teresa (atau biasa disebut Mother House oleh orang setempat), terletak di jantung kota Kolkata, sedikit agak jauh dari bandara. Kami naik taksi uber dari airport ke sana sekitar 500 rupee. Rumah ini terletak di pinggir jalan besar, dan bentuknya tersamar dari bangunan-bangunan di sekitarnya. Kalau tidak ada papan penunjuk pintu masuknya, mungkin kami tidak akan tahu kalau pintu masuknya ternyata ada di gang sebelah rumah ini.

Praying at Mother Teresa's House of CharityKami membunyikan lonceng (yes, bel rumah bentuknya lonceng). Tak lama kemudian pintu dibukakan oleh seorang suster yang mempersilahkan kami masuk dengan ramah. Suster ini (dan suster-suster lainnya) di sini berpakaian sama persis dengan bunda Teresa: baju terusan putih dengan kain sari bergaris biru. Kami dipersilahkan masuk, dan langsung diarahkan menuju sebuah ruangan yang merupakan makam bunda Teresa. Kemudian kami pun di-briefing, antara lain hanya boleh mengambil foto di dalam makam Bunda, tanpa flash, dan ruangan lain hanya boleh dikunjungi tapi tidak boleh mengambil gambar, dan ruangan selebihnya hanya untuk orang dalam saja.

Saya dan Lala pun langsung berlutut berdoa di hadapan makam Bunda Teresa. Berbagai peziarah lain (orang asli India, maupun orang kulit putih alias bule) banyak yang sedang berdoa di sini. Herannya, meskipun terletak di pinggir jalan raya, suasana dalam rumah ini sangat tenang dan damai. Tidak berisik seperti India pada umumnya. Para suster di sana tidak banyak berbicara, dan para peziarah pun tidak diperkenankan berbicara keras-keras.

Setelah berdoa di makam, kami pun mengunjungi ruangan lain.

Praying at Mother Teresa's House of Charity

Ruangan museum terletak di sebelah makam Bunda Teresa. Di sana tersimpan berbagai-bagai memento dari orang suci ini. Mulai dari pakaian yang pernah dikenakan, tas kain yang biasanya Bunda Teresa bawa kemana-mana, kumpulan puisi-puisi dan karya-karya bunda selama hidup, foto-foto, dan banyak lagi.

Praying at Mother Teresa's House of CharityKemudian kami pun naik ke lantai dua di depan ruangan tadi. Terdapat kamar yang dulu pernah ditempati Bunda Teresa selama hidupnya. Kamar itu kecil dan sederhana sekali. Hanya terdapat sebuah tempat tidur kuno kecil, sebuah meja kursi, dan lemari pakaian. Di kamar ini Bunda Teresa selalu membuat karya-karyanya yang luar biasa, merenung, dan berdoa. Karena kamar ini terletak persis di atas dapur, maka kamar ini sangat panas. Namun bunda tidak mengeluh sedikitpun.

Puas mengunjungi dan melihat-lihat mother house, kami pun memutuskan untuk pulang kembali ke hotel. Di pintu keluar, seorang suster memberikan kami suvenir berupa liontin rosario dan sebuah postcard kecil. “This is from mother house to all pilgrims coming here. Hope you go home and bring the same spirit and serve and humble as our mother,” ucapnya sambil tersenyum. Kami mengucapkan terima kasih, bersalaman, dan kemudian pamit. Saya dan Lala berpandang-pandangan sambil tersenyum, merasa puas, dan dalam hati berkata, “Ternyata masih ada sepercik kebaikan dan kesetiaan di muka bumi ini.”

Postcard dan Liontin Mother Teresa

Postcard dan Liontin Bunda Teresa

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolkata dan Bunda Teresa