Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Tokyo Skydiving Club

Tokyo Skydiving Club

Akhirnya saya tiba di Tokyo Skydiving Club (TSC). TSC ini berlokasi di salah satu sudut Honda Airport. Honda Airport ini merupakan sebuah lahan luas milik perusahaan Honda (iya, Honda yang sama dengan Honda yang di Indonesia, merk mobil dan sepeda motor). Lapangan mereka luar biasa besarnya, dan TSC hanya menyewa sedikit lahan di sana.

Suasana di TSC sangat unik. Lebih mirip barak perang yang sering kita lihat di film-film. Kantornya terdiri dari mobil-mobil karavan yang dijejer. Di area terbukanya, banyak orang-orang (termasuk trainer dan juga member-member) yang sibuk. Ada yang belajar skydiving, ada yang melipat parasut, ada yang hanya mengobrol sambil makan. Berbagai macam perlengkapan skydiving ditata dengan rapi di bawah atap jala untuk menghindarkan dari terik matahari.

Saya dan kedua cewe Jepang tersebut kemudian masuk ke salah satu karavan tersebut untuk mengisi form. Intinya dari form tersebut adalah data diri dan juga data keluarga yang bisa dihubungi bila terjadi apa-apa. Waduh, semakin menambah ketegangan sebelum skydiving ini. Kemudian saya diarahkan untuk mengumpulkan formulir di karavan yang lain dan membayar 40,000 yen. Karena sudah lewat jam 10, saya akhirnya diminta untuk ikut jadwal skydiving selanjutnya yaitu jam 12 siang. Akhirnya 2 jam itu saya habiskan dengan tiduran di kursi panjang sambil mengamati kesibukan orang-orang di sana.

You Only Live Once!

jam 11.15 nama saya dipanggil melalui interkom. Saya pun kemudian diperkenalkan dengan seorang trainer asli Jepang yang bernama Takeshi. Saya diminta memakai jumpsuit dan kemudian badan saya dipasangkan alat-alat pengaman. Takeshi kemudian mengajari saya beberapa kode seperti tepukan dua kali di punggung artinya aman boleh membuka tangan, posisi ketika saya di pesawat sebelum lompat, ketika lompat, dan ketika mendarat.

Tepat pukul 11.30, semua peserta yang akan lompat pada jam 12 diminta naik ke mobil untuk berangkat ke area boarding. Anehnya saya tidak merasakan nervous sama sekali. Saya malah semakin excited dan bergairah. Cepat-cepat saya naik ke mobil, dan kemudian naik ke pesawat baling-baling yang akan membawa kami ke ketinggian 4,000 meter di atas permukaan laut. Total ada 20 orang (termasuk pilot) yang ikut terbang. Yang lompat pun bermacam-macam. Ada yang solo jump, dan sisanya tandem jump.

Pesawat pun berangkat. Kurang lebih setengah jam pesawat mengudara, naik dan terus naik hingga menuju ke ketinggian yang diinginkan. Saya mengintip dari balik jendela. Rumah-rumah dan barak tadi makin lama makin kecil. Pesawat makin lama makin tinggi, hingga rumah-rumah tersebut terlihat sangat kecil. Untungnya cuaca cerah, tidak ada kabut sama sekali. Para peserta skydiving terlihat bersenda gurau satu sama lain. Sama sekali tidak ada raut ketegangan di wajah mereka, kecuali di beberapa peserta tandem yang mungkin seperti saya, baru pertama kali. (Saya tidak menemukan kedua cewe Jepang tadi, mungkin mereka ikut jadwal yang sebelumnya.)

Setelah sampai di ketinggian yang diinginkan, pesawat pun terbang stabil. Pintu pesawat mulai dibuka. Wushhh… Angin dingin bertiup masuk ke dalam pesawat. Nah, barulah hati saya merasa tegang dan nervous. Untuk mencairkan ketegangan, semua peserta melakukan toss kepalan tangan dan saling memberi semangat. Takeshi bilang, dalam skydiving faktor terpenting setelah safety adalah fun. Jadi, nikmatilah.

Ya Tuhan, ngomong sih gampang. Tapi hati ini sudah ciut duluan. Deg-degan.. Apalagi setelah melihat satu per satu peserta berlompatan keluar pesawat. Oh Em Ji! Mereka lompat… dari pesawat!! Srsly!?! Dalam hati ini menjerit, “Mamaaa… anakmu mau turunnn..!” Dan kemudian saat paling menegangkan itu tiba juga: giliranku.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Saya didorong Takeshi perlahan-lahan ke ujung pesawat. Saya diberikan kacamata supaya mata saya bisa terbuka ketika lompat. Aduhh… OMG! Jantung saya mau copot rasanya. Apalagi ketika Takeshi meminta saya duduk di pinggiran pesawat. Melihat ke bawah aja udah ngeri, apalagi lompat. “Is it safe? Will I be okay?”, hati saya bertanya-tanya dengan tegang. Takeshi kemudian mengangkat kepala saya, dan menghitung mundur dalam bahasa Jepang. “San.. Ni.. Ichi..” dan setelah itu yang bisa saya rasakan adalah jantung saya seperti melorot hingga ke perut.

Bucket List checked!

Kalau ada yang bertanya pada saya, seperti apa skydiving itu. saya akan menjawab: Jatuh! Sensasi ketika barusan lompat keluar dari pesawat seperti jatuh.. Ya. Benar-benar jatuh. Jatuh bebas! Terjun bebas dengan kecepatan tinggi! Tidak ada rem sama sekali! Dan ketika Takeshi menepuk bahu saya dua kali, saya merentangkan tangan saya selebar-lebarnya. Barulah saya bisa menikmatinya. Saya bisa merasakan sensasi itu.

Terbang.

Seperti terbang.

Saya terbang.. di ketinggian yang tak terlukiskan kata-kata. Udara dingin masuk lewat mulutku. Saya tidak diberi kesempatan untuk bernapas lewat hidung, karena sepanjang jatuh saya berteriak. Saya berteriak bukan karena takut. Ketakutan saya sudah lewat. Namun lebih karena saya excited! Saya bergairah! Inilah pertama kali saya merasa begitu bebas, begitu lepas, begitu nyaman. Saya berteriak sekencang-kencangnya, melepas semua penat dalam diri saya. Tiba-tiba saya merasa begitu hidup, begitu bersemangat. Hidup ini ternyata begitu indah.

Skydiving in Japan

Wush…. Parasut kemudian dibuka. Dan kali ini saya bisa melayang sambil menikmati pemandangan-pemandangan yang terpampang di hadapan saya. Takeshi kemudian menjelaskan beberapa lokasi yang terlihat. “Di sebelah sana, ada sebuah gunung kecil.. Kemudian di sebelah sana ada sebuah stadium.. Bla bla bla..” Saya begitu menikmati perjalanan saya. Perjalanan turun, udara yang semakin hangat, ditemani dengan pemandangan yang begitu menakjubkan, dan sensasi luar biasa yang barusan terjadi. Tak terasa Takeshi mengingatkan saya untuk bersiap-siap mendarat. Dan sreettt… kami mendarat mulus di lapangan rerumputan di drop zone. Hati saya masih berdebar-debar merasakan sensasi yang luar biasa tadi. Satu lagi bucket list saya tercapai.

Berikut video keseruan skydiving di Saitama, Tokyo, Jepang, bersama Tokyo Skydiving Club.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tokyo Skydiving Club