Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Skydiving in Japan? Let’s go!

Skydiving in Japan

Bulan April 2016 saya ke Jepang lagi. Yay! Tapi terasa (akan) membosankan karena jarak dengan kunjungan sebelumnya tidak terlalu jauh. Terakhir kali saya ke Jepang pada bulan Oktober 2015, jadi artinya hanya selisih 6 bulan saya pergi ke Jepang lagi. Tapi karena ada rejeki, dan saya diminta menemani teman saya dan istrinya, akhirnya saya berangkat ke Jepang lagi pada bulan April ini.

Supaya tidak terasa sama dengan rute saya sebelumnya, kali ini saya memutuskan untuk melakukan beberapa hal gila di Jepang. Saya sengaja memberikan sedikit tweak kepada rute saya kali ini. Kali ini saya memutuskan pergi ke Alpen Route di Tateyama Mountain, kemudian lanjut pergi ke Toyama dan menginap di Kanazawa untuk kemudian pergi ke Shirakawa-Go. Selain itu juga, saya memutuskan untuk melakukan salah satu bucket list saya di Jepang untuk pertama kalinya, yaitu…

Mimpi untuk Skydiving

Wahahahha.. inilah pertama kalinya saya akan mencoba skydiving. Pertama kali dalam hidup pengen nyoba gimana sih rasanya lompat dari ketinggian 4000 meter dan kemudian “terbang” seperti Iron Man. Serius ini adalah salah satu bucket list saya. Mumpung hidup ini cuma sekali, kapan lagi punya kesempatan untuk olahraga yang tergolong ekstrim ini.

Sebenarnya kunjungan saya ke Jepang tahun lalu saya sudah berencana untuk skydiving. Namun karena saya berada di Tokyo saat itu pada weekday, (dan weekend saya sudah harus pergi ke Osaka), sedangkan jadwal skydiving hanya Sabtu dan Minggu, maka saya mengurungkan niatku, dan barulah pada kunjungan kali ini kesampaian.

Sabtu pagi itu sengaja saya tidak pergi ke Disneyland bersama teman-teman saya. Saya sudah booking jadwal untuk skydiving jam 10 pagi dengan Tokyo Skydiving Club. Namanya saja “Tokyo”, padahal lokasinya bisa dikatakan cukup jauh dari Tokyo, tepatnya berada di kota Okegawa di Saitama Perfecture. Sebelumnya ketika saya berada di Indonesia saya sudah mengirimkan email kepada mereka tentang jadwal skydiving dan juga identitas diri. Mereka meminta pembayaran dilakukan secara cash langsung.

Ada 3 jenis paket yang ditawarkan untuk tandem jump (tandem jump: skydiving bersama seorang trainer atau yang lebih profesional). Untuk tandem jump standar, harganya 32,000 yen. Untuk tandem jump dengan menggunakan kamera go-pro (video) oleh trainernya harganya 40,000 yen. Sedangkan tandem jump dengan tambahan seorang cameraman profesional harganya 48,000 yen. Saya mengambil paket yang 40,000 yen untuk kenang-kenangan (dan instagram :D).

Skydiving in Japan

Okegawa

Pagi itu saya langsung menuju Ueno Station (stasiun paling besar setelah Shinjuku dan Tokyo Station) karena paling dekat dengan hostel saya. Saya langsung mengecek jurusan Ueno – Okegawa di sebuah mesin informasi. Mesin tersebut memberikan data yang sangat lengkap mulai dari nama kereta, jadwal keberangkatan, platform mana, dan waktu ketibaan. Saya segera membeli tiket kereta dan langsung berangkat ke Okegawa.

Perjalanan dari Ueno menuju Okegawa memakan waktu sekitar 45 menit. Saya mengatur alarm di ponsel saya dan saya pun tidur di kereta. Ponsel saya bergetar beberapa menit sebelum saya tiba di Okegawa. Dan dengan terhuyung-huyung (masih mengantuk) saya turun di stasiun Okegawa.

Tokyo Skydiving ClubOkegawa merupakan sebuah kota kecil di Saitama Perfecture. Kotanya bersih, tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu lalang, namun di setiap sudut kota bertebaran banyak taman-taman. Saya langsung menanyakan informasi mengenai bus yang akan membawa saya ke Honda Airport (lokasi skydiving). Bus tersebut ternyata hanya ngetem setengah jam sekali. Dan saya beruntung karena saya bertemu dengan sepasang kakek-nenek yang membantu saya mulai dari membayar bus, hingga mengingatkan saya untuk berhenti di terminal yang dimaksud. Meskipun mereka tidak fasih berbahasa Inggris, namun mereka begitu helpful. Berbeda sekali dengan orang Tokyo yang cenderung individualis. Perjalanan menggunakan bus selama 20 menit dan akhirnya saya turun di sebuah… ehm.. pinggiran kota?! What!? Srsly? Bus stop ini terpencil sekali, dengan kiri-kanan merupakan lapangan yang sangat luas.

Untungnya bersama saya turun dua orang cewe Jepang. Saya langsung sok kenal bertanya kepada mereka ke arah mana Honda Airport. Soalnya menurut petugas di stasiun, saya masih harus berjalan kaki 15 menit (di bawah terik matahari) untuk mencapai Honda Airport. Mereka pun langsung bertanya, “Loh, mau skydiving juga ya?” Saya mengangguk. Ternyata dua orang cewe Jepang ini berasal dari Tokyo dan mereka juga mau skydiving. Mereka meminta saya menunggu 5 menit karena nanti ada mobil yang menjemput, sehingga saya tidak perlu susah payah jalan. Dan benarlah, 5 menit kemudian dari kejauhan sebuah mobil sejenis MPV datang menjemput kami.

(Bersambung)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skydiving in Japan? Let’s go!