Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Backpacker ke Maldives – Paradise on Earth

Backpacker ke Maldives

Maldives.. Mungkin di bayangan green travelers sekalian adalah sebuah negara dengan pantainya yang cantik, langit biru, pasir putih, dan keindahan sebuah tempat berlibur yang eksotis. Mungkin juga di bayangan green travelers adalah sebuah negara yang mahal, yang tidak ramah kantong ala-ala backpacker. Nah tanggal 25 Juni 2015 kemarin saya berkesempatan mengunjungi Maldives bersama seorang teman saya. Berikut laporannya.

Departure menuju Maldives

Kami berangkat dari Surabaya menuju Jakarta terlebih dahulu dengan pesawat Air Asia (tiket pp sekitar IDR 1.2 juta / orang). Kemudian dari Jakarta kami naik pesawat Mihin Lanka menuju Colombo (ibu kota Srilanka). Penerbangan Jakarta – Colombo sekitar 5 jam (ditambah perbedaan waktu 1.5 jam). Setelah sampai di Colombo, kami harus transit naik Srilankan Airlines menuju Maldives. Penerbangan Colombo – Male sekitar 1.5 jam (ada perbedaan waktu Srilanka dan Maldives setengah jam).

Tiket PP Jakarta – Colombo – Male naik Mihin Lanka (beli dari bulan Oktober 2014) adalah sekitar USD 429. Cukup murah kan?

Pesawat Mihin Lanka dan Srilankan Airlines

Well.. penerbangan dengan Mihin Lanka bukanlah sebuah penerbangan yang nyaman ala-ala Cathay Pasific atau sebangsanya. Malah kami merasa Mihin Lanka ini sejenis Air Asia dengan jarak kursi yang cukup dekat, susah selonjor, tidak ada entertainment dalam pesawat. Makanan yang disajikan pun ala India/Srilanka gitu, dengan bumbu kare nya yang khas. Yah maklum deh, Mihin Lanka merupakan salah satu penerbangan low budget dari negara asalnya.

Penerbangan dengan Srilankan Airlines menuju Maldives tidak kalah parahnya. Pesawat lebih kecil dan tempat duduknya keras. Untungnya cuma satu jam lebih dikit. Maklum juga sih di Male airportnya kecil. Mungkin karena itu pesawat besar tidak disarankan menuju sana ya…

Backpacker ke Maldives

Bandara Ibrahim Nasir dan Maafushi

Sesampainya di Bandara Ibrahim Nasir, Male, kami langsung dijemput oleh pihak dari hotel dengan menggunakan speed boat. Sedikit ulasan mengenai bandara ini. Bandara Ibrahim Nasir merupakan bandara internasional yang tidak terlalu besar. Yah, kira-kira sebesar airport Ngurah Rai Bali yang lama deh. Dan di sana tidak ada mobil. Keluar airport langsung pelabuhan/dock. Dan di sana sudah tersedia ferry untuk mengantar penumpang ke Male City. Ferry menuju Male City setiap 10 menit sekali berangkat. Hanya saja kalau menuju resort atau pulau yang jauh disarankan naik speed boat yang biasanya disediakan hotel untuk transfer. Tidak bisa naik taksi (kecuali ke Hulhumale yang berada satu pulau dengan bandara).

Backpacker ke Maldives

Pemandangan luar bandara

Perjalanan dari airport menuju Maafushi memakan waktu 45 menit naik speed boat. Siap-siap dibanting kiri-kanan ya kalo pas ombaknya besar. Banyak turis yang ga kuat bisa kena sea sick (mabuk laut).

Maafushi sendiri adalah sebuah pulau destinasi wisata di Maldives yang sering dikunjungi turis. Letaknya di selatan Male City. Pulaunya tidak terlalu besar, dan dikelilingi oleh pantai-pantai yang indah. Tetapi tidak semua pantai boleh berjemur. Turis hanya boleh memakai pakaian renang di area tourist beach. Tourist beach ini areanya tertutup dan tidak kelihatan dari luar, dan hanya turis yang boleh ke sini. Masyarakat lokal jarang. Ingat, Maldives adalah negara muslim.

Arena Beach Hotel Maafushi

Arena Beach Hotel

Sebagian besar dari pulau ini terdiri dari hotel dan rumah penduduk. Harga penginapan di sini pun tidak terlalu mahal. Hotel yang kami pilih, Arena Beach Hotel memasang tarif sekitar IDR 1 juta / malam. Hotel ini sangat nyaman. Saran kami pilihlah kamar yang menghadap laut (sea view). Selain itu depan area Arena Beach Hotel sudah langsung akses terhadap pantai. Tidak perlu repot-repot berjalan jauh menuju pantai.

Arena Beach Hotel MaafushiPros: kamar nyaman (pilihlah kamar yang menghadap laut), pelayanan ramah, kamar dibersihkan setiap hari, langsung akses ke pantai, banyak pilihan excursion (wisata), makanannya relatif enak di lidah orang Indonesia, staf yang kooperatif (meskipun ada beberapa yang mengharapkan imbalan).

Cons: wifi yang lambat, banyak lalat di ruang makan.

Simak lanjutannya di part 2 ya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Backpacker ke Maldives – Paradise on Earth