Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

The 3rd Infiltration Tunnel

Desa Imjingak DMZ Korea

Imjingak

Bus meluncur dari kota Seoul terus menuju utara (lihat jurnal part 1 di sini). Pemberhentian utama adalah desa Imjingak. Sebenarnya tidak tepat kalau tidak disebut desa, karena tempat ini lebih cocok disebut tempat wisata. Di Imjingak, kami diberi waktu 20 menit untuk ke toilet dan melihat beberapa ikon di tempat ini.

Bell of peace adalah sebuah lonceng besar yang merupakan simbol perdamaian kedua Korea suatu hari nantinya. Ada juga kereta api kuno bekas peninggalan perang Korea dulunya. Kereta api yang sudah berkarat ini terdapat banyak bekas peluru. Di sana juga kita bisa melihat rel kereta api yang tersambung ke Korea Utara namun sudah ditutup. Kemudian ada juga observatory tower (yang sejujurnya tidak bisa terlihat apa-apa di ujung sana). Kemudian juga ada kawat berduri yang menjadi pembatas wilayah yang digantungkan berbagai pita berwarna-warni sebagai simbol harapan agar Korea bisa cepat bersatu kembali.

Pita warna warni sebagai doa Korea Bersatu

Checkpoint

Perjalanan kembali dilanjutkan. Akhirnya barulah kita tiba di sebuah pos pemeriksaan (checkpoint). Checkpoint ini mirip seperti pintu tol. Bedanya yang jaga adalah para tentara. Han mengingatkan kita untuk mengeluarkan paspor kita dan membuka halaman yang ada fotonya. Tak lama kemudian dua orang tentara naik ke bus dan memeriksa paspor kami satu per satu. Di tempat ini kami tidak boleh mengambil foto, baik foto tentara maupun foto lokasi ini.

DMZ Museum

Tulisan DMZ di Korea

Melewati checkpoint, kami menuju ke area selanjutnya yaitu DMZ dan 3rd infiltration tunnel (terowongan ketiga). Ada satu hal menarik ketika menuju lokasi ini. Terdapat sebuah bangunan di atas jalan raya yang mirip jembatan penyeberangan. Bedanya, bangunan ini penuh, seperti tembok tebal yang dibangun di atas jalan. Han berkata bahwa ini adalah anti-tank building. Di dalam bangunan ini ada banyak dinamit C4. Bila suatu hari Korut menyerang, maka bangunan ini akan diledakkan dan menutup jalan raya di bawahnya untuk memperlambat tank-tank Korut.

Akhirnya tiba juga di DMZ Museum. Di sini kami diajak Han masuk ke dalam sebuah museum mini. Museum ini namanya museum DMZ (ya iyalah..). Di dalam kami ditunjukkan peta Korea Utara yang akan terlihat nantinya di Dora Observatory Tower. Beberapa hal menarik dari penjelasan Han adalah: dari tower akan terlihat dua desa di Korea Utara. Satu merupakan desa sebenarnya dengan orang asli dan aktivitas yang nyata. Satunya lagi merupakan desa untuk propaganda alias desa palsu. Di desa ini hanya ada “bangunan modern” tembok yang dicat dengan gambar pintu dan jendela. Desa ini sekilas terlihat maju dan mewah, namun tidak ada kehidupan di dalamnya. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada Korsel kalau Korut juga punya desa maju (padahal palsu).

DMZ Korea

Kemudian kami digiring menuju ruangan multimedia. Di ruangan ini kami disuguhkan sebuah dokumentasi tentang terowongan-terowongan yang digali Korut untuk menyerang Korsel. Total ada 4 terowongan. Terowongan pertama, kedua, dan ketiga ditemukan pada rentang tahun 1970-1978, sedangkan terowongan keempat pada tahun 1990. Semua terowongan ini bertujuan untuk menyerang Seoul (ibukota Korsel). Ternyata terowongan ketiga ini (3rd infiltration tunnel) dibangun Korut dengan seluruh dinamit mengarah ke Korsel. Selain itu, bagian tembok terowongan ini dicat hitam dengan kedok sebagai terowongan batu bara (sehingga menghindari sanksi PBB).

Kereta Api Jaman kuno

The 3rd Infiltration Tunnel

Keluar dari museum, kami langsung masuk ke sebuah gedung pintu masuk terowongan ini. Dilarang mengambil foto di terowongan ini, sehingga semua barang bawaan kami harus dititipkan di locker sebelum masuk. Kami juga diharuskan memakai helm (seperti helm proyek) yang nantinya akan sangat bermanfaat ketika di dalam nanti.

Pintu masuk 3rd tunnel

Pintu masuk 3rd tunnel

Jalan menuju terowongan ini dibuat seperti terowongan juga, meluncur turun terus ke bawah dengan kemiringan 11 derajat. Udara dalam terowongan ini sudah diberi AC. Kebayang kan panasnya bila masuk ke terowongan hampir sepanjang 1 km tanpa AC. Kami terus berjalan ke bawah. Perjalanan turunnya cukup mudah. Namun sampai di terowongan sebenarnya, kami mulai kesulitan.

Lebar terowongan hanya sekitar 2 meter, dengan ketinggian 180 cm hingga 200 cm. Mungkin perawakan orang Korea yang kecil-kecil lebih mudah masuk. Tapi untuk bule-bule dengan tinggi 180 cm ke atas, masuknya terpaksa harus berjalan menunduk. Beberapa kali terdengar suara “Duk!” bunyi helm terantuk langit-langit terowongan yang rendah. Bahkan saya sendiri sempat terantuk beberapa kali (padahal tinggi saya hanya 173 cm).

Berjalan masuk terowongan ini sedalam 500 m dengan badan sedikit membungkuk sungguh menyiksa. Di ujung terowongan kami melihat tembok blokade yang dibuat oleh Korsel tepat di bawah MDL (batas negara Korsel). Pada tembok itu ada sebuah jendela kecil. Ketika saya mengintip ke dalamnya, tidak terlihat apa-apa, hanya ada sebuah blokade lagi di ujung sana untuk mencegah prajurit Korut masuk. Perjalanan kembali ke permukaan membutuhkan jalan kaki 1 km lagi. Belum lagi jalan naik 11 derajat yang sangat-sangat menyiksa dan melelahkan. Keluar dari sana pun alhasil membuat semua peserta tur mandi keringat.

Oya, peserta dengan penyakit jantung, darah rendah, klausterfobia tidak disarankan masuk terowongan ini ya.

(bersambung ke part 3)

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The 3rd Infiltration Tunnel