Life of a Backpacker

A Journal of James Winner

Akhirnya tiba juga di Taj Mahal!

Taj Mahal and James Winner

Sebelumnya, FYI, Taj Mahal ini bukan terletak di kota Delhi (masih banyak teman-teman saya yang mengira Taj Mahal ada di Delhi). Bangunan super megah ini terletak di kota Agra yang berjarak 200 km dari Delhi, dan bisa ditempuh dengan kereta ekspres selama 2 jam perjalanan, atau 4 jam dengan menggunakan mobil. Saya dan travel partner saya, Lala, naik kereta ekspress jam 6 pagi dan tiba di Agra jam 8 pagi. Di dalam kereta kami berkenalan dengan dua orang turis dari Brazil: John dan Nielson. Ternyata sehari sebelumnya John dan Nielson mengalami scam di Delhi. Supir taksi menipu uang mereka. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk jalan berempat seharian di Agra ini untuk mengurangi resiko penipuan di Agra ini.

Tujuan pertama kami tentunya adalah Taj Mahal yang tersohor itu. Naik taksi seharga 150 rupee kami berempat pun berangkat menuju keajaiban dunia itu. Supir taksi kami menawari kami untuk tumpangan full day seharga 1,000 rupee namun ditolak halus oleh John karena sehari sebelumnya John mengalami pengalaman kurang menyenangkan dengan supir taksinya.

Southern Gate Taj Mahal

Southern Gate Taj Mahal

Kami diturunkan di luar kompleks Taj Mahal. Turun taksi, sudah banyak guide abal-abal yang mencari mangsa. Kami menolak dengan halus dan langsung berjalan masuk ke dalam kompleks Taj Mahal. Selama perjalanan masuk kurang lebih 500 meter, kami terus menerus direcoki oleh para pedagang asongan dan becak. Memang di India kondisinya ga jauh beda dengan di Indonesia ya.

Tiba di loket Taj Mahal, kami harus membayar 1,000 rupee untuk tiket masuk. Cukup mahal memang untuk ukuran turis. Padahal kalau orang lokal hanya membayar 40 rupee atau hanya 8000 perak saja! Tiket kami sudah termasuk goverment tax untuk beberapa objek wisata lainnya seperti Baby Taj dan Agra Fort. Simpan tiket Taj Mahal ini baik-baik untuk ditunjukkan sebagai bukti tax free untuk tujuan berikutnya.

Masuk ke dalam kompleks Taj Mahal, dilarang membawa segala jenis makanan dan minuman. Tas yang diijinkan pun hanya ukuran kecil. Ransel ukuran besar dan makanan/minuman harus dititipkan. Selain itu kami juga diberikan sepasang sarung sepatu dan sebotol air minum. Kemudian setelah dititipkan semua, kita harus melewati pemeriksaan X-Ray, barulah kita masuk ke bagian dalam Taj Mahal. Selain itu ada guide yang setengah memaksa untuk menuntun kita. Katanya sih orang dari goverment, cuma dikasih tips aja di akhir kunjungan sesuai dengan kerelaan.

Akhirnya satu per satu langkah kami menuju ke dalam komplek utama. Hatiku berdebar-debar saking excited-nya. Perasaan meledak-ledak akhirnya bisa menginjakkan kaki di salah satu dari tujuh keajaiban dunia!!

Masuk ke dalam Taj Mahal, kesan pertama: megah. Setiap inci dari bangunan ini diperhitungkan dengan seksama. Simetris dan indah. Ini baru gerbangnya saja. Taj Mahal sendiri baru terlihat atapnya dari pelatarannya. Guide kami yang bernama David ini pun menunjukkan bahwa kita masuk dari gerbang barat, dan gerbang utamanya adalah gerbang selatan (southern gate). Kami pun tak sabar dan ingin segera memasuki komplek utama Taj Mahal.

Taj Mahal

Berjalan perlahan masuk melewati southern gate, terlihat sebuah bangunan yang begitu megah dan indah. Inilah Taj Mahal, sebuah makam yang didirikan oleh mughal India Shah Jahan sebagai makam istri yang paling dicintainya. Sungguh indah seperti lukisan. Bangunan yang terbuat dari marmer pualam putih yang menjulang, dengan keempat menaranya di keempat penjurunya. Taman dan kolam di pelataran Taj Mahal yang dibangun dengan perhitungan sangat simetris. Dari southern gate kami berempat benar-benar terdiam menikmati pemandangan luar biasa yang terhampar di hadapan kami.

Handstand Taj MahalDavid memberi waktu kami beberapa saat untuk berfoto-foto di southern gate ini. Saat saya hendak foto dengan gaya yoga, ternyata ada larangan untuk tidak boleh berfoto dengan pose yang aneh-aneh. Alasannya sih karena pernah ada orang jatuh, tapi menurutku mungkin Taj Mahal juga dipergunakan sebagai masjid sehingga disakralkan. (Tapi karena saya bandel, akhirnya diam-diam saya berhasil foto gaya handstand juga dibantu Lala. :D)

Kami pun berjalan masuk ke dalam bangunan utama Taj Mahal itu sendiri. Sebelumnya kami diharuskan untuk memakai sarung sepatu yang diberikan kepada kami dan di dalam tidak boleh foto-foto. Saya berjalan masuk perlahan, sambil tangan saya menyentuh dan meraba kehalusan marmer putih yang luar biasa ini. Ternyata sarung sepatu yang dimaksudkan agar marmer Taj Mahal tidak baret. Dan dari David kami juga baru tahu kalau pemerintah menetapkan radius 2 km dari Taj ini harus bebas dari asap kendaraan karena bisa membuat bangunannya jadi kuning. Segitunya ya..

Sarung sepatu Taj Mahal biar ga lecet marmernya

Sarung sepatu Taj Mahal

Di dalam bangunan inti ini, di bawah tanah, tersimpan makam asli dari Mumtaz Mahal, istri dari Shah Jahan (pendiri Taj Mahal). Yang dipamerkan di bagian atas hanyalah replikanya. Bagian dalam Taj Mahal ini cukup gelap. David memberikan sedikit pertunjukkan kepada kami. Dia mengatakan bahwa marmer ini bukan marmer biasa karena bila terkena sinar, maka akan menyala. Sambil membawa sebuah senter kecil dia pun memberikan demonstrasi kepada kami. Selebihnya, kami berjalan mengelilingi Taj Mahal. Di sisi kanan dan kiri Taj Mahal ada dua bangunan simetris yang serupa. Bangunan di sisi satu digunakan untuk masjid, sedangkan bangunan di sisi yang lain digunakan sebagai tempat tinggal Shah Jahan di masa lalunya.

Yamuna River

Yamuna River – view dari Taj Mahal

Tepat di belakang Taj Mahal mengalir Yamuna River. Dulunya sungai ini merupakan sumber penghidupan untuk rakyat Agra (untuk mandi, minum, dan memasak). Namun kini kualitas air di India seperti yang kita tahu, tidak sebaik ratusan tahun lalu. Selain itu aliran air Yamuna River juga sedang kering (sedikit airnya) karena musim kemarau.

Puas berjalan-jalan di kompleks Taj, kami akhirnya diarahkan keluar kembali ke southern gate dan diantar David menuju beberapa toko. Maklum, sepertinya dia ingin mendapatkan komisi dari toko-toko ini. Seusai berbelanja, kami pun kembali ke gerbang barat untuk mengambil barang titipan kami, dan melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan kepada Taj Mahal. Sebuah impian yang dua tahun lalu yang saya impikan kini sudah terwujud. Tak ada yang lebih membuat saya bahagia ketika mengunjungi berbagai keajaiban dunia dan menyaksikan keindahannya dengan mata kepala sendiri.

Taj Mahal, engkau memang luar biasa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Akhirnya tiba juga di Taj Mahal!